![]() |
| Sosialisasi Puskesmas Kerongkong terkait aplikasi berbasis digital bernama AIEPE |
SELAPARANGNEWS.COM - Puskesmas Kerongkong, Kecamatan Suralaga, melakukan langkah inovatif dalam menekan laju persebaran virus HIV/AIDS di Kabupaten Lombok Timur. Melalui peluncuran aplikasi berbasis digital bernama AIEPE" (Ayo Ikut Edukasi dan Pemeriksaan Gratis), puskesmas berupaya mempermudah deteksi dini sekaligus memutus rantai stigma negatif terhadap penderita HIV di tengah masyarakat.
Kepala Puskesmas Kerongkong, Muhammad Hermansyah, S.Kep., Ners, mengungkapkan bahwa kehadiran tools tambahan ini dipicu oleh tren peningkatan kasus yang cukup signifikan.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 75 kasus HIV/AIDS di Lombok Timur sepanjang periode 2000-2025. Namun, di awal tahun 2026 saja, tercatat sudah ada 9 kasus baru yang ditemukan.
"Kenapa kami merancang aplikasi ini? Tujuannya untuk memudahkan skrining kepada sasaran utama, mulai dari ibu hamil, penderita TBC, lansia, hingga remaja sekolah. Kami ingin menemukan kasus ini lebih awal agar laju perkembangan virus di dalam tubuh penderita bisa kita tekan melalui pengobatan yang tepat," ujar Muhammad Hermansyah saat sosialisasi lintas sektoral di wilayah Kerongkong. Rabu, (13/05/202).
Hermansyah menekankan bahwa HIV bukanlah sebuah aib, melainkan penyakit menular yang bisa dicegah dan dikelola.
"Sesungguhnya ini bukan aib, ini penyakit yang bisa kita intervensi. Fokus kami adalah pada sisi promosi dan preventif. Melalui sistem ini, pelayanan kita kepada masyarakat yang mungkin terinfeksi menjadi lebih bersahabat dan tidak menakutkan," imbuhnya.
Nama aplikasi AIEPE sendiri diambil dari bahasa lokal setempat yang berarti "Siapakah Anda", yang kemudian diakronimkan menjadi ajakan untuk edukasi dan pemeriksaan kesehatan.
Inovator aplikasi sekaligus perawat di Puskesmas Kerongkong, Eka Mulyana Astuti, S.Kep., Ners, menjelaskan bahwa sistem ini bekerja secara mandiri dan sangat praktis. Masyarakat hanya perlu memindai QR Code* yang tersedia untuk masuk ke laman pengisian formulir skrining.
"Masyarakat cukup menjawab beberapa pertanyaan yang menjadi indikator apakah mereka masuk dalam populasi berisiko atau tidak. Harapan kami, melalui aplikasi ini, masyarakat memahami bahwa risiko HIV tidak hanya menyasar populasi kunci seperti pengguna narkoba suntik atau pelaku seks komersial, tapi juga populasi rentan seperti ibu hamil, remaja, dan pekerja migran," jelas Eka.
Terkait kerahasiaan data yang seringkali menjadi penghalang seseorang untuk memeriksakan diri Eka menjamin integritas admin dan tenaga kesehatan yang bertugas.
Sistem ini dirancang untuk melindungi privasi pasien karena hanya admin yang akan mengetahui identitas pengakses untuk kemudian dijadwalkan pertemuan medis atau mobile test.
"Kerahasiaan data adalah hal utama dalam legal etik keperawatan. Kami sudah disumpah profesi untuk menjaga privasi klien. Jadi, jangan menunggu kondisi fisik parah baru berobat. Melalui pola digital ini, privasi mereka sangat terlindungi karena tidak ada yang tahu mereka melakukan pemeriksaan kecuali admin medis kami," tegasnya.
Saat ini, penggunaan aplikasi AIEPE masih dalam tahap uji coba di wilayah kerja Puskesmas Kerongkong. Namun, jika dalam evaluasi berkala sistem ini terbukti efektif meningkatkan cakupan skrining dan mempermudah penemuan kasus baru, tidak menutup kemungkinan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur akan merekomendasikan aplikasi ini untuk diadopsi di seluruh puskesmas di wilayah tersebut.
Langkah jemput bola ini diharapkan dapat membangun kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi mereka, sekaligus memastikan para penderita HIV mendapatkan penanganan medis secara berkelanjutan layaknya penderita penyakit kronis lainnya seperti hipertensi atau diabetes. (SN)
