![]() |
| Bendera Universitas Hamzanwadi dikibarkan di bawah laut Pulau Moyo Satonda dan Foto Bersama Anak-Anak setempat usai bersih pantai |
SELAPARANGNEWS.COM - Program Studi (Prodi) Pariwisata Universitas Hamzanwadi turut ambil bagian dalam rangkaian Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, HUT ke-4 Taman Nasional Moyo Satonda, dan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2026 yang digelar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kegiatan yang berlangsung 15 - 17 Agustus 2026, di Desa Labuhan Aji, Pulau Moyo, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa itu melibatkan 112 peserta dari 27 instansi dan lembaga, mulai dari Ditpolairud Polda NTB, Kejari Sumbawa, Basarnas, BPBD, pemerintah desa, perguruan tinggi, organisasi konservasi, hingga komunitas penyelam.
Koordinator Peodi Pariwisata Universitas Hamzanwadi, Muhammad Ramli, M.Pd., CHE, menegaskan bahwa keikutkeikutsertaan Universitas Hamzanwadi dalam kegiatan tersebut bukan sekadar menghadiri seremoni HUT RI, melainkan menjadi wujud pengabdian akademik dalam menjaga salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia.
“Pulau Moyo Satonda merupakan destinasi wisata kelas dunia dengan daya tarik yang sangat luar biasa. Kehadiran kami merupakan bentuk pengabdian Pusat Studi Pariwisata Universitas Hamzanwadi untuk mendukung pelestarian lingkungan sekaligus memperkuat pengembangan pariwisata berkelanjutan,” ujarnya.
Selama tiga hari, peserta mengikuti beragam kegiatan, di antaranya pengibaran Bendera Merah Putih di bawah laut, transplantasi terumbu karang, aksi bersih pantai (clean up), sosialisasi konservasi, hingga pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter di pesisir Pulau Moyo.
Ramli menilai peringatan Hari Kemerdekaan menjadi momentum untuk menumbuhkan nasionalisme melalui aksi nyata menjaga kekayaan alam Indonesia, khususnya kawasan konservasi yang memiliki nilai ekologis dan pariwisata tinggi.
“Wisata berkualitas tidak akan lahir tanpa ekosistem yang terjaga. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan komunitas menjadi kunci menjaga Pulau Moyo tetap lestari sebagai destinasi kelas dunia,” tambahnya.
Pulau Moyo dan Satonda dikenal sebagai kawasan konservasi sekaligus destinasi wisata bahari unggulan Nusa Tenggara Barat. Keindahan terumbu karang, pantai alami, serta kekayaan biodiversitas laut menjadikan kawasan ini memiliki potensi besar sebagai pengembangan ekowisata yang berkelanjutan.
Melalui momentum HUT RI ke-81 dan HKAN 2026, Program Studi Pariwisata Universitas Hamzanwadi menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pelestarian lingkungan sekaligus mendorong pengembangan pariwisata berbasis konservasi demi menjaga daya saing destinasi wisata NTB di tingkat nasional maupun internasional. (SN)
