Notification

×

Iklan

Iklan

EKSISTENSIALISME ALGORITMIK: Ketika Gen Alpha Bukan Lagi Homo Sapiens

Minggu, 11 Oktober 2026 | Oktober 11, 2026 WIB Last Updated 2026-10-11T16:03:21Z

Penulis: Mastur Sonsaka | Pemerhati Perilaku


Kami tidak lagi hidup di dunia yang sama


Selama dua abad kita sepakat: manusia adalah Homo Sapiens. Makhluk yang dilempar ke dunia — dalam istilah Heidegger Geworfenheit — yang keberadaannya mendahului esensinya, yang mencari kebenaran lewat permenungan, dan yang mengukur nilainya lewat keotentikan. Dasein. Cogito Ergo Sum. Authenticity. Bahasa itu telah retak.

‎

‎Kelahiran Spesies Baru

‎

‎Pada tahun 2010-2013, lahir sebuah generasi yang tidak pernah mengenal dunia tanpa algoritma. Ini bukan soal mereka lebih mahir main HP. 

‎

‎Millennial masih ingat dunia tanpa internet. Mereka adalah imigran digital. Gen Z masih ingat dunia sebelum TikTok. Mereka adalah generasi transisi.

‎

‎Gen Alpha tidak. Mereka tidak punya nostalgia analog. Tidak punya trauma migrasi digital. Mereka tidak bermigrasi ke dunia digital; mereka dilahirkan di dalamnya.

‎

‎Karena itu, kita membuat kesalahan fatal ketika menilai mereka dengan kamus lama. Kita menyebut mereka kecanduan, rusak, kurang fokus, dan harus diperbaiki agar kembali menjadi manusia abad ke-19.

‎

‎Saya mengajukan tesis yang berbeda: Mereka bukan Homo Sapiens yang rusak. Mereka adalah spesies eksistensial yang baru.

‎

‎Kita sebut mereka Homo Algorithmicus, dan prototype paling murni adalah Gen Alpha. Bukan patologi, melainkan bentuk mengada yang baru — seperti amfibi pertama yang keluar dari air, bukan ikan yang gagal.

‎

‎Mengapa Gen Alpha adalah prototype? Karena ia lahir tanpa masa transisi. Habitatnya sudah ganda sejak lahir: fisik dan data. Ia tidak bingung, ia memang begitu. Kita yang bingung melihatnya. Modus mengada-nya berbeda secara radikal di tiga level: 

‎

Pertama, level Ontologis: Dari Dasein menjadi Datasein

‎Filsafat klasik menyebut manusia sebagai Dasein — ada-di-dunia. Dunia adalah tempat ia menjejak. Homo Algorithmicus adalah Datasein — ada-di-data-dan-di-dunia. Keberadaannya hibrida.

‎

‎Inilah mengapa kita salah paham ketika koneksinya terputus lalu ia panik. Kita mengira ia manja. Padahal separuh dunianya runtuh. Seperti amfibi yang menggelepar di luar air, bukan karena manja, tapi karena ia butuh dua habitat. Mematikan Wi-Fi bagi Datasein bukan mematikan hiburan, tapi menghapus satu dimensi keberadaannya.

‎

‎Kedua, level Epistemologis: Dari Cogito menjadi Vireo

‎Homo Sapiens berkata: Cogito Ergo Sum — saya berpikir maka saya ada. Kebenaran dicari lewat berpikir lambat, lewat buku dan guru. Homo Algorithmicus berkata: Vireo Ergo Sum — saya terlihat maka saya ada.

‎

‎Ia tidak mencari kebenaran; kebenaran disodorkan kepadanya melalui kurasi algoritmik. Ia tidak malas berpikir; ia berpikir melalui feed. Otoritas pengetahuannya bukan lagi institusi, melainkan algoritma yang mengenalnya lebih intim daripada dirinya sendiri.

‎

‎Ini bukan kemalasan intelektual. Ini adalah perubahan cara kerja pengetahuan. Jika Cogito bertanya "Apa yang benar?", Vireo bertanya "Apa yang relevan bagiku sekarang?"

‎

‎Ketiga, level Aksiologis: Dari Authenticity menjadi Performativity

Homo Sapiens mengukur nilai melalui keotentikan yang privat, lambat, dan abadi. Menjadi diri sendiri.

‎

‎Homo Algorithmicus mengukur nilai melalui performativitas yang relevan dan teroptimasi. Makna baginya bukan sesuatu yang tebal dan abadi, melainkan sesuatu yang cepat, intens, disposable, dan butuh saksi.

‎

‎Maka kegagalan terbesarnya bukan bad faith — menjadi tidak otentik — melainkan Oblitus: dilupakan oleh sistem, tidak relevan, tidak terdata.

‎Kecemasannya pun bukan kecemasan klasik — takut mati, takut bebas. 

‎

‎Kecemasannya adalah kecemasan spesies baru: cemas jika tidak terdata, cemas jika tidak divalidasi, cemas jika tidak relevan. Untuk memahami kecemasan ini, kita tidak bisa menggunakan kamus abad 19. Kita tidak bisa menghakimi amfibi dengan ilmu tentang ikan. Kita membutuhkan ontologi baru.

‎

‎Apa Itu Eksistensialisme Algoritmik?

‎

‎Eksistensialisme Algoritmik adalah ontologi itu. Ia bukan cabang dari eksistensialisme klasik. Ia bukan kritik moral terhadap teknologi.

‎

‎Ia adalah upaya pertama untuk memberi bahasa bagi Homo Algorithmicus agar ia dapat memahami dirinya sendiri — bukan sebagai Homo Sapiens yang gagal, melainkan sebagai manusia baru yang tetap manusia.

‎

‎Tugas filsafat hari ini bukan menarik Gen Alpha kembali ke gua analog, bukan pula membiarkan mereka tenggelam pasrah menjadi data.

‎

‎Tugas filsafat hari ini adalah mengajarkan cara dwelling ganda — cara menjadi amfibi yang sehat: yang tahu kapan harus berada di air dan kapan harus naik ke darat, yang mampu hidup di dalam feed tanpa kehilangan kemampuan untuk pulang. 

‎

‎Algoritma dapat memprediksi apa yang akan kamu klik berikutnya. Tetapi algoritma tidak akan pernah dapat memprediksi mengapa, pada suatu sore, kamu tiba-tiba ingin mematikan semua layar dan menatap langit tanpa alasan.

‎

‎Di celah yang tidak terprediksi itu — di jeda antara Vireo dan Cogito, antara Datasein dan Dasein — di situlah kamu masih menjadi manusia. Manusia baru yang tetap manusia. Homo Algorithmicus. Gen Alpha sebagai prototype-nya. [*]

×
Berita Terbaru Update