SELAPARANGNEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menjalin kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk memperkuat mitigasi bencana melalui digitalisasi informasi dan komunikasi kebencanaan. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama, diseminasi hasil penelitian, serta peluncuran aplikasi Sistem Informasi Gunung Merapi Inklusif (SIGUMI).
Kegiatan yang berlangsung di Rupatama 1 Kantor Bupati Lombok Timur itu dirangkaikan dengan sosialisasi dan pelatihan mitigasi bencana melalui skema riset komunikasi bencana inklusif. Inisiatif tersebut diarahkan untuk mendukung pariwisata berkelanjutan di kawasan objek daya tarik wisata (ODTW), khususnya Gunung Merapi di Yogyakarta, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menyampaikan apresiasi atas perhatian UMY terhadap daerahnya. Menurutnya, Lombok Timur memiliki kekayaan alam yang subur dan indah, tetapi juga menghadapi potensi ancaman bencana yang perlu diantisipasi secara serius.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah mendukung upaya penguatan mitigasi bencana, baik melalui kebijakan maupun regulasi.
“Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur sangat mendukung tidak hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi juga regulasi dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda),” ujar Bupati.
Haerul Warisin juga menekankan pentingnya digitalisasi dalam berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan, termasuk penanggulangan bencana. Ia mengapresiasi kehadiran SIGUMI sebagai salah satu inovasi yang diharapkan membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan wisatawan.
“Kami bersyukur dengan hadirnya SIGUMI untuk antisipasi,” tambahnya.
Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur Lalu Mulyadi menjelaskan bahwa Lombok Timur merupakan salah satu daerah di NTB yang memiliki kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN), yakni kawasan Gunung Rinjani.
Dari tiga KSPN di NTB, yaitu Gunung Rinjani, Mandalika, dan kawasan Tiga Gili, Gunung Rinjani menjadi salah satu kawasan strategis yang berada di wilayah Lombok Timur.
Namun, potensi pariwisata tersebut berjalan beriringan dengan risiko kebencanaan. Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Provinsi NTB periode 2025–2030, NTB berada di peringkat ketujuh secara nasional dalam tingkat kerawanan bencana.
Sementara itu, Lombok Timur menghadapi hampir 11 jenis ancaman bencana, mulai dari erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, angin puting beliung, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga tsunami.
Lalu Mulyadi juga mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 30 September 2026, Gunung Rinjani sempat berada pada Level II.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas gunung api harus diantisipasi dengan langkah cepat dan terukur, terutama untuk melindungi pengunjung yang sedang beraktivitas di kawasan wisata.
“Apabila satu tingkat lagi naik menjadi Level Waspada, maka BPBD akan segera memberikan rekomendasi kepada Bupati untuk melakukan evakuasi pada pengunjung wisata yang sedang beraktivitas di kawasan Gunung Rinjani,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mempertegas pentingnya peningkatan kapasitas kelembagaan dan kemampuan personel BPBD dalam operasi tanggap darurat. Kecepatan penyampaian informasi, koordinasi lintas sektor, serta ketepatan penentuan lokasi korban menjadi aspek penting dalam penanganan bencana.
Karena itu, SIGUMI diharapkan menjadi salah satu inovasi pendukung mitigasi bencana, terutama melalui sistem peringatan dini pada fase prabencana dan pemanfaatan koordinat lokasi pada fase tanggap darurat.
“Dengan aplikasi SIGUMI, diharapkan tim akan lebih mudah menentukan titik korban atau lebih cepat mengeluarkan rekomendasi dan peringatan dini,” harap Lalu Mulyadi.
Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Riset Inovatif Produktif (Rispro), Adhiyanti Nurjanah, menjelaskan bahwa SIGUMI dikembangkan dengan empat pilar utama, yakni mitigasi bencana, komunikasi inklusif, kolaborasi pentahelix, dan pariwisata berkelanjutan.
Dalam pengelolaannya, BPBD dan Dinas Pariwisata ditunjuk sebagai administrator aplikasi. Keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan pendaki, diharapkan dapat memperkuat penyebaran informasi serta membangun partisipasi dalam mengurangi risiko bencana di kawasan gunung berapi.
“Semua pihak diharapkan dapat mengunduh aplikasi ini, terutama para pendaki, dan benar-benar menjadi kontributor untuk mengurangi risiko bencana di sekitar gunung berapi. Kami juga berharap adanya Perda tentang kebencanaan,” ujarnya.
Adhiyanti menambahkan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menyampaikan hasil penelitian yang telah dilaksanakan selama satu tahun. Ia berharap hasil riset tersebut mampu memberikan kontribusi nyata dan menghadirkan solusi atas persoalan kebencanaan, khususnya di Lombok Timur.
SIGUMI merupakan aplikasi berbasis perangkat seluler yang dirancang untuk menyediakan informasi mitigasi bencana gunung berapi secara mudah diakses, akurat, dan relevan bagi berbagai pemangku kepentingan.
Aplikasi ini ditujukan untuk mendukung penyebarluasan informasi kepada masyarakat, wisatawan, pengelola destinasi wisata, serta pemerintah. SIGUMI juga diharapkan menjadi salah satu sumber informasi pendukung penelitian dan pengembangan di bidang mitigasi bencana.
Meski telah diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, aplikasi SIGUMI masih dalam proses pengembangan dan nantinya direncanakan dapat diunduh melalui Google Play Store maupun Apple App Store.
Kehadiran aplikasi ini diharapkan meningkatkan pemahaman masyarakat dan wisatawan terhadap potensi bahaya gunung berapi, menumbuhkan budaya sadar bencana, serta memperkuat kesiapsiagaan ketika menghadapi situasi darurat.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mitigasi bencana di kawasan wisata rawan bencana serta pemanfaatan aplikasi SIGUMI yang disampaikan Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan. Acara kemudian dilanjutkan dengan uji coba praktik penggunaan aplikasi oleh tim Rispro.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan, pengembangan SIGUMI diharapkan menjadi bagian dari penguatan sistem mitigasi bencana yang inklusif, responsif, dan mendukung keberlanjutan pariwisata di kawasan Gunung Rinjani. (SN)
