Notification

×

Iklan

Iklan

Detail, Ternyata Begini Skema Pemotongan Hewan Yang Benar

Monday, August 3, 2020 | August 03, 2020 WIB Last Updated 2021-04-15T10:43:53Z

Foto: DRH Achsan NH, Plt Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur

Lombok Timur, Selaparangnews.com –
 Skema yang dijalankan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur ternyata tidak semudah yang dibayangan dalam proses pengawasan dan pemeriksaan hewan kurban pada perayaan Idul Adha tahun ini. “Harus detail dan rinci kami awasi,” kata DRH Achsan NH selaku Petugas Pelaksana Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab. Lotim. Senin, (3/8/2020)

Dia menjelaskan, dari Dinas Peternakan sudah mempersiapkan proses detailing sebelum menjelang hari raya qurban. Dari hal kepanitiaan, peralatan, perlengkapan, para medis hewan, dan dokter hewan sudah ia dan tim persiapkan dari jauh hari.

Dalam hal ini Dinas Peternakan Lotim menyusun strategi agar mempermudahan jalannya proses kurban tahun ini. Dengan menggerakkan 10 Unit Pelaksana Tehnis (UPT) pusat kesehatan hewan yang mampu mengcover 22 kecamatan yang tersebar di wilayah Lotim. “Kita mempunyai 22 dokter hewan dan 51 orang para medis,” sebut Achsan.

Secara rinci Achsan memaparkan ada dua model pemeriksaan hewan, pertama Ante-Mortem yaitu pemeriksaan hewan kurban sebelum dilakukan penyembelihan seperti dari pembelian hewan kurban sampai dengan penempatan dikandang.

Yang kedua Post-Mortem yakni pemeriksaan hewan sesudah proses penyembelihan seperti pemotongan daging yang harus steril dari bakteri dan penyakit sampai dengan pembagian daging.

Sampai dengan proses penyembelihan hewan kurban harus sesuai dengan syari’at islam, kalau sapi minimal berumur 2 tahun dan kambing minimal berumur 1 tahun.  “Meskipun sapinya besar tapi tidak cukup umur maka itu tidak boleh,” terang Achsan.

Kesehatan hewan wajib menjadi prioritas utama untuk diperhatikan, tegasnya. Hewan yang akan disembelih penting untuk diperhatikan pernafasannya, nafsu makannya, daya cerna, syaratnya, dan pergerakannya selama berada di dalam kandang.

Bahkan alat kelamin tidak boleh mengalami kecacatan fisik, begitu juga dengan gigi dan mata yang tidak boleh ada kelaianan. Serta darah yang keluar dari hewan tersebut harus 100 persen, “semakin banyak darah yang keluar maka semakin bagus kualitas dagingnya,” ungkap Achsan.

Jangan sampai hewan yang akan dikurban mengalami stres dan ketakutan, sebab itulah salah satu yang mempengaruhi kaulitas daging. “Tetap kami lakukan sosialisasi ke Masjid tentang hal itu,” lanjutnya. Adapun jika ada temuan hewan yang terindikasi sakit maka pihaknya akan langsung mengembalikan atau menukarkan hewan tersebut.

Sebagai informasi tambahan Achas menuturkan, saat ini tidak ada penyakit Zonosis (penyakit hewan yang bisa menular ke manusia) yang terdeteksi di Lombok Timur. Seperti antrax, rabies, dan penyakit menular strategis lainnya. “Masyarakat tidak perlu khawatir tentang hal itu,” tutup Achsan.

Di tempat yang sama, H. M. Jarwan ketua pemotongan hewan kurban di Masjid At-taqwa Pancor, Kecamatan Selong sangat mengapresiasi kinerja dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lotim. Dengan pengawasan dan pemeriksaan yang ketat, masyarakat merasa aman mengkonsumi daging hewan kurban. 

“Masyarakat tidak perlu resah dengan kesehatan hewan, karena itu sudah ada jaminan steril,” jelas Jarwan. (SN-06)
×
Berita Terbaru Update