![]() |
| Kegiatan Nuzulul Qur'an dan Ngaji Budaya Sasak oleh Pemuda Sasak Sasak. Indonesia di Lombok Timur |
SELAPARANGNEWS.COM - Peringatan Nuzulul Quran yang digelar oleh Pemuda Sasak Indonesia di Masjid Nurul Jihad, Dusun Grepek Santek, Desa Kembang Are Sampai, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur pada Selasa (09/03/2026), bukan sekadar agenda keagamaan tahunan. Di tangan generasi muda, momentum ini ditransformasikan menjadi ruang refleksi identitas—bagaimana adat, agama, dan masa depan masyarakat Sasak dirajut dalam satu tarikan nafas peradaban.
Ketua Umum Pemuda Sasak Indonesia, Raden Nune Syahroni, menegaskan bahwa tema “Adat Betakak, Betekan lan Betatah Agame, Agame Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah” bukan hanya slogan simbolik, melainkan falsafah hidup masyarakat Sasak yang harus terus dirawat dan dimaknai ulang secara kontekstual.
Menurutnya, Nuzulul Quran seharusnya melahirkan kesadaran kolektif, khususnya di kalangan pemuda, untuk membaca kembali posisi Al-Qur’an sebagai sumber nilai dalam kehidupan sosial dan kebudayaan. “Modernitas tidak boleh mencabut kita dari akar. Generasi Sasak harus berpikir maju, adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap kokoh dalam iman dan adat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan satu hal mendasar: adat dan agama bukan dua entitas yang berdiri sendiri. Dalam pandangan Raden Nune, keduanya memiliki akar yang sama—bersendikan Kitabullah. Artinya, adat yang hidup di tengah masyarakat Sasak bukanlah tradisi kosong, melainkan ekspresi kultural dari nilai-nilai syariat yang bersumber dari Al-Qur’an.
Konsep ngaji budaya Sasak yang diusung dalam kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk menjembatani diskursus keislaman dengan realitas sosial budaya. Agama tidak ditempatkan di ruang normatif yang terpisah, melainkan hadir dan membumi dalam praktik adat, tradisi, serta struktur sosial masyarakat.
Di tengah arus globalisasi yang kerap mendorong homogenisasi budaya, penegasan identitas seperti ini menjadi penting. Tanpa fondasi nilai, modernitas bisa berubah menjadi keterasingan. Namun dengan pijakan religius dan kultural yang kuat, perubahan justru dapat menjadi instrumen kemajuan yang berkarakter.
Dari Dusun Grepek Santek, Desa Kembang Are Sampai, Kecamatan Sakra Barat, suara itu menggema: bahwa masa depan Sasak harus dibangun di atas kesadaran historis dan spiritualnya sendiri. Bahwa adat yang bertiangkan agama, dan agama yang bersendikan syariat serta Kitabullah, bukan hanya warisan masa lalu—melainkan fondasi peradaban yang terus relevan.
Opini ini menegaskan satu pesan utama: menjaga adat berarti merawat iman, dan menguatkan agama berarti mengokohkan jati diri. Di sanalah generasi Sasak menemukan arah—modern dalam gagasan, religius dalam pijakan, dan kultural dalam identitas. (SN)
