Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Investor Penginapan Apung Diduga Picu Kemarahan Warga Ekas Buana

Jumat, 06 November 2020 | November 06, 2020 WIB Last Updated 2021-04-01T16:16:50Z

Foto: Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh warga Dusun Ekas, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur menolak pembangunan penginapan dan restauran apung oleh PT. Adventure

Lombok Timur, Selaparangnews.com – Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh warga Dusun Ekas, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur pada Kamis, 05 November 2020 Kemarin diduga dipicu oleh penolakan warga sekitar atas rencana PT. Adventure untuk membangun penginapan dan restauran apung  di sana.

Muhammad Saleh, salah satu warga di sekitar Dusun Ekas, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur menuturkan keresahannya terkait rencana  investor yang akan membangun 200 penginapan dan restauran apung di pantai Ekas tersebut. Tak hanya itu, Ia juga menyampaikan keresahannya atas ketidak jelasan skema relokasi yang akan dilakukan jika nantinya rumah warga tersebut dipindahkan.

Mendengar rencana tersebut, dengan spontan, warga melakukan  aksi demonstrasi, karena tidak setuju dengan adanya bangunan restauran dan penginapan apung oleh pihak investor tersebut karena  hal itu akan mengancam mata pencaharian warga sekitar.

"Aksi itu kemarin sebenarnya gara-gara ada investor yang akan membangun 200 penginapan dan restauran apung di laut, yang di mana laut itu merupakan salah satu tempat warga mencari ikan," tandasnya.

Menurut Saleh, jika pembangunan itu benar-benar dilakukan, maka akan berdampak pada lokasi mata pencaharian warga. Karena dengan dibangunnya 200 penginapan dan restauran apung itu, tentu akan menutupi lautan Ekas.

Ia melanjutkan,sebagaimana rencana Pemerintah Kabupaten Lotim untuk merelokasi rumah warga yang berada di sekitar bibir pantai Ekas tersebut.. Namun, lanjutnya,  ada satu hal yang menjadi persoalan bagi warga sekitar yakni jenis rumah warga yang permanen dan tidak permanen akan diganti dengan jenis rumah yang sama.

Menurutnya, dengan model relokasi seperti itu, hal itu akan menimbulkan rasa ketidakadilan pada warga yang direlokasi. Itulah yang kemudian, menjadi landasan utama warga merasa keberatan dengan pembangunan restoran dan penginapan apung tersebut.

"Keresahan warga itu karena belum mengetahui kejelasan dari model ganti rugi itu," ungkap Saleh kepada SN ketika ditemui di kediamannya. Jum'at, 6/11/2020.

Ia mengatakan, jumlah rumah warga yang terkena imbas dari pembangunan itu sekitar 30 rumah. Yang sampai dengan saat ini, masih belum menerima kejelasan terkait skema relokasi.

Selain itu, terkait dengan aksi yang dilakukan kemarin pada (5/11) oleh warga, kata Saleh itu merupakan aksi spontanitas yang tanpa sepengetahuan dari pihak Desa ataupun pemerintah setempat.

"Mengenai aksi yang kemarin itu, warga melakukannya dengan spontan. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya," jelasnya.

Terpisah, Kepala Desa Ekas Buana Ahmad Nursandi, menceritakan kronologis kejadian aksi demonstrasi yang dilakukan oleh warga sekitar Ekas.

Awalnya, ia mengatakan bahwa terkait dengan relokasi rumah warga tersebut, sebetulnya merupakan program dari Pemerintah Daerah Lotim untuk menata Pantai Ekas setelah proses sosialisasi pada sebelumnya.

Namun, lanjutnya, asumsi yang berkembang di telinga warga yakni seakan-akan relokasi tersebut ada intervensi dari pihak Investor yang bernama PT. Adventure. Itulah yang tidak dikehendaki oleh warga sekitar, yang terkena imbas dari relokasi tersebut.

Ia menyebut bahwasanya memang dalam beberapa hari tekahir banyak pejabat yang berdatangan, baik dari eksekutif maupun legislatif.

Ketika kemarin kedatangan dirjen pariwisata, kata Nursandi secara kebetulan pihak dari investor yaitu PT. Adventure ternyata juga datang pada acara itu.

"Ibu Y inisal (pihak investor dari PT. Adventure) itu ternyata datang kemarin, itu yang membuat warga geram dan melakukan aksi secara spontanitas," jelasnya.

Warga menolak kedatangan pihak investor tersebut bukan tanpa alasan, lanjut Nursandi, warga yang merasa keberatan beralasan bahwa investor tersebut akan membangun 200 unit penginapan dan restauran apung di atas laut, yang notabenenya laut itulah sebagai garapan warga sekitar memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sejauh ini ia membenarkan jika 30 rumah warga yang akan direlokasi, akan tetapi data tersebut nantinya akan di tinjau ulang untuk falidasi. Adapun luas lahan yang disiapkan oleh Pemda untuk relokasi rumah warga sekitar 1 hektar.

"Luas lahan tempat relokasi warga sudah dipersiapkan oleh pemda sekitar 1 hektar," kata Nursandi. (fgr)

×
Berita Terbaru Update