Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Telemedicine, Pemanfaatan Teknologi Dalam Layanan Kesehatan Selama Masa Pandemi Covid-19

Rabu, 03 Maret 2021 | Maret 03, 2021 WIB Last Updated 2021-03-06T04:11:40Z

Oleh: Arik Puspita Purnama Putri*

Opini, Selaparangnews.com - Pada saat ini seluruh dunia telah diguncang hebat oleh kemunculan atau keberadaan dari sebuah virus yang dikenal dengan nama Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Yang mana Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) ini merupakan salah satu jenis virus baru yaitu (SARS-COV-2), virus ini juga telah banyak menyebabkan atau menginfeksi manusia serta menimbulkan korban jiwa yang cukup banyak. 

Selain itu, virus ini juga mengakibatkan orang-orang menjadi panik dan ketakutan dengan keberadaannya. Fenomena atau kasus Covid-19 pertama kali muncul serta menyerang manusia di Kota Wuhan, Cina, kemunculan dari virus atau wabah ini diduga karena penyakit Pneumonia dengan gejala berupa flu, gejala yang ditimbulkan apabila seseorang terkena virus ini seperti demam tinggi, batuk, sesak napas, lemas serta tidak nafsu makan dan melakukan aktivitas lainnya karena virus ini menyerang sistem imun tubuh seseorang secara cepat. 

Virus ini sangat berbeda dengan influenza karena virus ini mengalami perkembangan yang sangat cepat sehingga dapat menyebabkan infeksi yang sangat parah serta menimbulkan gagal organ sampai menyebabkan kematian mendadak pada korbannya. 

Dengan melihat perkembangan kasus penularan Covid-19 yang sangat cepat tersebut mengakibatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan virus ini sebagai sebuah pandemi pada tanggal 11 Maret 2020. 

Dengan adanya status pandemi atau epidemi global ini menyatakan bahwa perkembangan penularan virus corona berlangsung dengan sangat cepat dan hampir negara di seluruh dunia termasuk Indonesia tidak dapat memastikan seseorang atau individu bisa terhindar dari virus tersebut. 

Penyebaran serta perkembangan dari virus corona atau Covid-19 ini telah berlangsung selama kurun waktu kurang lebih satu tahun lamanya. Tentunya hal tersebut telah menjadi suatu momok yang sangat mengkhawatirkan serta menakutkan bagi kalangan masyarakat di dunia khususnya masyarakat Indonesia. Namun masyarakat awam masih menganggap gejala yang disebabkan oleh virus ini sama seperti influenza pada umumnya, tetapi dalam analisis kedokteran gejala yang ditimbulkan dari virus ini sangat berbahaya serta mematikan bagi siapa saja yang terinfeksi virus ini.

Saat ini sebagian besar masyarakat juga tidak akan pernah tahu sampai kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Secara Nasional, data terakhir jumlah kasus Covid-19 di Indonesia pada hari Sabtu (27/02/2021) menunjukkan bahwa total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 menembus angka sebanyak 1.329.074 orang dengan temuan 6.208 kasus positif Covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 55.495 spesimen dari31.394 orang, kemudian sebanyak 35.981 orang dinyatakan meninggal dunia dan tercatat sebanyak 1.128.672 orang telah dinyatakan sembuh  dari paparan virus asal Wuhan, Cina (dikutip dari http://m.merdeka.com/ peristiwa/27-februari-kasus-bertambah-6208-total-1329074-orang-di-ri-positif-covid-19).

Dengan adanya perkembangan serta pertambahan kasus penularan yang terjadi di Indonesia tentunya menyebabkan pemerintah Indonesia berupaya dalam mengurangi serta mengantisipasi penyebaran penularan virus tersebut seperti dengan mengahruskan masyarakat menggunakan masker ketika keluar rumah, mencuci tangan menggunakan sabun setelah memegang benda tertentu, menerapkan social dan physical distancing pada tempat-tempat keramian, menerapkan kebijakan Lokdown dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di wilayah atau daerah tertentu. 

Selain itu juga penerapan kebijakan dalam pelayanan kesehatan juga terus dilakukan karena ini merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat di masa pandemi Covid-19 ini. Pemrintah berupaya memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat secara khusus karena pelayanan kesehatan tersebut tentunya akan memudahkan masyarakat dalam memeriksakan diri mereka agar mengantisipasi terinfeksi dari virus corona tersebut. 

Memahami tentang kebijakan pemerintah tentang penanganan penularan jumlah kasus Covid-19 yang semakin meningkat setiap harinya. Tentu membuat para tenaga medis maupun masyarakat melakukan sebuah inovasi dalam memanfaatkan teknologi di masa pandemi seperti saat ini dengan mengakses berbagai macam aplikasi telemedicine guna memeriksakan kesehatan mereka tanpa harus datang ke Rumah Sakit yang mana hal tersebut dapat menyebabkan bertambahnya jumlah korban yang terinfeksi Covid-19.

Pandemi Covid-19 saat ini tidak hanya mendatangkan dampak negatif tetapi juga mendatangkan dampak positif bagi dunia kesehatan, yakni salah satunya adalah dimaksimalkannta teknologi untuk pelayanan kesehatan. Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI), Dr. Moh Adib Khumaidi, SpOT menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 membuat masyarakat dan dunia kesehatan lebih melek serta paham terhadap teknologi. 

“Hikmah dari Covid ini ialah kita harus mengubah mindset atau pemikiran dari sisi kesehatan. Terlepas dari Covid ada atau tidak, pasti pelayanan kesehatan akan berubah termasuk teknologi kesehatan. Kita sebenernya terlambat, tapi di ASEAN kita menang dari Laos dan Kamboja, dengan Vietnam kita sudah kalah karena mereka sudah membangun rekayasa genetika,” kata Dr. Adib dalam virtual conference, Kamis. (dikutip dari Antara News). 

Selain itu juga berdasarkan laporan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada senin (6/4) banyak masyarakat yang sudah mulai mencoba mengakses aplikasi telemedicine untuk berkonsultasi mengenai virus corona yang mencapai 15 juta akses. 

Berdasarkan Laporan Menteri Kesehatan Dalam Rapat Kabinet Terbatas Senin 6/4) ada 15 juta orang mengakses telemedicine sehingga membantu berkurangnya jumlah pasien yang datang ke Rumah Sakit, seperti diterangkan Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Manardo. 

Sebagai gambaran, telemedicine merupakan pemakian alat telekomunikasi yang dapat memberikan informasi ataupun pelayanan kesehatan jarak jauh kepada masyarakat. 

Doni juga menyebutkan bahwa jumlah pengakses telemedicine ini diantara mengakses aplikasi seperti Halodoc, Klikdokter, Dokter Sehat, Alodokter, Yesdok, SehatQ dan lain sebagainnya. Layanan seperti ini tentunya memberikan pendampingan pada para penggunanya untuk melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Teori Uses and Gratification adalah teori yang pertama kali dicetuskan oleh Herbert Blummer dan Elihu Katz. Teori Uses and Gratification (kegunaan dan kepuasaan) memfokuskan pada para audiens atau pengguna media untuk memainkan perannya secara aktif guna memilih serta menggunakan media tersebut dalam proses komunikasi. 

Pengguna media berupaya mencari sumber media yang paling baik dalam setiap usahanya untuk memenuhi kebutuhannya (Menurut Nurudin, 2007). Dalam teori khalayak dianggap mempunyai kecenderungan dalam memilih media yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhannya serta mengabaikan media yang dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhannya. 

Pandangan teori Uses and Gratification mengenai masalah Telemedicine, Pemanfaatan Teknologi dalam Layanan Kesehatan dimana masyarakat aktif untuk mencari media mana yang mereka anggap dapat memenuhi kebutuhan serta kepuasaan mereka terhadap informasi kesehatan mereka melalui berbagai macam aplikasi yang sudah disediakan. Sehingga masyarakat mempunyai kemudahan dalam melakukan konsultasi kesehatan melalui chat secara langsung dengan dokter untuk menanyakan berbagai macam keluh kesah tentang penyakitnya atau menanyakan seputar virus covid-19. 

Dengan semakin bertambahnya masyarakat yang menggunakan layanan kesehatan yang telah di sediakan, tentunya ini menandakan bahwa teori Uses and Gratification memang benar adanya, karena masyarakat dalam hal ini berperan aktif untuk memilih media yang dianggap memenuhi kebutuhannya yang mana media yang dipilih adalah berbasis aplikasi.

Penulis menilai bahwa dengan adanya pemanfaatan teknologi di dalam memberikan kemudahan untuk mengakses layanan kesehatan yang telah di sediakan oleh pemerintah maupun tenaga medis, masyarakat dalam hal ini tentu telah memberikan sebuah kontribusi yang sangat luar biasa bagi pemerintah dan tenaga medis di dalam memutus rantai penyebaran virus Covid-19 yang semakin tidak terkendali dari waktu ke waktu. 

Oleh sebab itu diperlukannya sebuah kerja sama serta komunikasi yang baik antar setiap elemen baik masyarakat, pemerintah, tenaga medis dan yang lainnya di dalam mengurangi jumlah kasus Covid-19 di Indonesia. Sehingga dengan adanya kerja dan komunikasi yang baik dari segala elemen yang terlibat, tentunya akan sangat mempermudah dalam menemukan solusi dari setiap masalah yang sedang dihadapi tersebut.


*Mahasiswi Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mataram. 

×
Berita Terbaru Update