Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sunrise Land Lombok Lepasliarkan Ratusan Anak Penyu di Pantai Labuhan Haji

Minggu, 31 Juli 2022 | Juli 31, 2022 WIB Last Updated 2022-08-01T05:03:44Z

H. Daeng Paelori, Wakil Ketua DPRD Lotim saat melepasliarkan anak penyu di Pantai Sepolong Labuhan Haji bersama para pengunjung dan BKSDA Provinsi NTB 

Lombok Timur, Selaparangnews.com - Ratusan ekor anak Penyu atau Tukik dilepasliarkan di Pantai Dusun Montong Meong, Desa Labuhan Haji, Lombok Timur oleh Sunrise Land Lombok bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi NTB, Dinas Pariwisata dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lombok Timur. 

Direktur Sunrise Land Lombok Qori Bayyinaturrosyi mengatakan, yang dilepasliarkan itu merupakan anak penyu yang datang bertelur dan menetas di Pantai tersebut. Jumlah anak Penyu yang dilepasliarkan dalam acara tersebut ialah sebanyak 102 ekor. Katanya, ratusan anak Penyu itu berasal dari 105 biji telur Penyu yang mereka temukan di sana. 

Awalnya, kata Qori sapaan akrabnya, pemeliharaan penyu tersebut dilakukan secara otodidak tanpa ada keahlian di bidang konservasi. Namun, dengan semangat dan kerja keras yang tinggi mereka langsung  membentuk Duta Penyu yang khusus melakukan pemeliharaan dan melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait.

Al hasil, tandasnya, usaha dan kerja keras mereka itu mendapat angin segar karena direspon BKSDA Provinsi NTB serta beberapa mahasiswa dari berbagai kampus, seperti UGM. Dari sana kemudian, lanjutnya, mereka mendapatkan pelatihan secara online bagaimana melakukan konservasi terhadap Penyu. 
 
"Sebenarnya kami sudah sering melepasliarkan anak penyu di sini, tapi dengan acara resmi seperti ini baru pertama kali," ujarnya. Minggu, (31/07/2022). 

Itu pun, lanjut Qori, dilakukan atas usulan dari BKSDA NTB sebagai rangkaian dari acara memperingati HUT RI yang 77 dan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2022. "Kalau acara ini atas usulan BKSDA untuk memeriahkan HUT RI dan Hari Konservasi Alam Nasional," pungkasnya. 

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Lotim H. Daeng Paelori yang juga hadir dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi kepada pihak Sunrise Land Lombok. 

Pasalnya menurut Daeng, Sunrise Land Lombok memiliki kesadaran dalam mengelola pantai dengan prinsip yang tidak saja berorientasi pada bisnis dan profit, melainkan juga berorientasi konservasi yaitu bagaimana menjaga keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam. 

"Ini salah satu langkah baik para pemuda, harus dihormati, diberikan tempat, sebab tidak semua punya kepedulian seperti ini," ucapnya.

Politisi Partai Golkar asal Labuhan Haji itu mengulas sejarah keberadaan penyu di Labuhan Haji. Katanya, sekitar tahun 1980-an, di Labuhan Haji sudah ada tempat penangkaran Penyu hasil tangkapan nelayan di tengah laut. 

Akan tetapi, kata Daeng, penyu-penyu itu kemudian dijual keluar daerah untuk dijadikan makanan. Namun seiring perkembangan zaman dan kesadaran akan konservasi, maka penyu dimasukkan sebagai tumbuhan dan hewan liar yang harus dilindungi, sehingga saat ini sudah tidak ada lagi penangkaran penyu untuk dijual. 

"Penyu adalah hewan yang dilindungi undang-undang. Kita semua harus melestarikannya, menjaga habitatnya agar tidak punah," tandasnya. 

Ia juga berharap semangat Sunrise Land Lombok dalam  melestarikan alam tersebut harus didukung oleh pemerintah, karena ternyata ada sekelompok anak muda yang mau berusaha sekaligus menjaga kelestarian alam di mana selama ini hal itu nyaris dilupakan. 

"Apa yang dilakukan anak-anak muda Sunrise Land Lombok ini adalah sesuatu yang hampir kita lupakan," tegasnya. 

Pada kesempatan itu, pria yang akrab disapa HDP itu berharap supaya ide-ide kreatif semacam itu juga bisa dilakukan di pantai-pantai lainnya di wilayah Kabupaten Lombok Timur. "Kita semua harus memiliki semangat sama untuk melindungi penyu dari kepunahan," pungkasnya. (Yns) 

×
Berita Terbaru Update