Di balik hiruk-pikuk perkembangan sosial-keagamaan di Lombok, terdapat sosok-sosok teduh yang memilih jalan sunyi dalam berdakwah. Beliau adalah adalah Datoq Kuranji, atau yang dikenal dengan nama Tuan Guru Haji Ihsan Ismail. Beliau adalah representasi nyata dari filosofi "mengakar ke bawah", di mana pengabdian dilakukan dengan kedalaman spiritual tanpa haus akan pengakuan publik.
Lahir di tengah masyarakat Sasak yang religius, TGH. Ihsan Ismail muda menunjukkan ketertarikan luar biasa pada ilmu Tasawuf dan fiqh. Perjalanannya mencari ilmu tidaklah instan. Beliau menempa diri di bawah bimbingan ulama-ulama besar di masanya, menyerap tidak hanya teks kitab kuning, tetapi juga adab yang nantinya menjadi ciri khas dakwahnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren lokal, beliau melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke tanah suci Mekah. Di sana, beliau menyelami berbagai disiplin ilmu Islam, yang membentuk cakrawala berpikirnya menjadi luas namun tetap moderat.
Selain ilmu lahir, beliau cukup memperdalam Ilmu Tasawuf. Beliau memahami bahwa kecerdasan intelektual tanpa kebersihan hati hanya akan melahirkan kesombongan. Di bawah bimbingan guru-guru spiritual, beliau melatih sifat Zuhud (tidak silau dunia) dan Khauf (takut hanya kepada Allah).
Pengalaman spiritual inilah yang menjadi cikal bakal mengapa sekembalinya ke tanah air, beliau memilih jalan dakwah yang "Tanpa Sorot Lampu." Beliau merasa bahwa pengabdian paling tulus adalah ketika seseorang mampu menghilang di hadapan makhluk agar hanya terlihat di hadapan Khalik.
Pernah suatu ketika, kisah tentang kealimannya mulai tersebar luas, mengundang banyak tokoh besar untuk datang dan mengangkat namanya ke permukaan. Namun, Datoq Kuranji memilih untuk "menghilang". Beliau bukan anti-sosial, melainkan ia takut jika ketokohannya justru menjadi penghalang antara umat dengan Sang Pencipta.
"Biarlah ilmu ini mengalir seperti air di bawah tanah, Air itu tak terlihat, tapi ia menghidupkan sumur-sumur penduduk tanpa perlu meminta imbalan tepuk tangan" ucapnya dalam sebuah riwayat.
Membangun Benteng Spiritual di Kuranji
Sekembalinya dari tanah suci, TGH. Ihsan Ismail menetap di Kuranji, sebuah wilayah yang kemudian menjadi identitas melekat pada namanya. Beliau tidak mendirikan institusi dengan gedung-gedung megah di awal gerakannya; sebaliknya, beliau membangun "manusia".
Dalam dakwahnya selalu menggunakan pendekatan kultural. Beliau tidak langsung mengubah tradisi masyarakat, melainkan "mewarnai" tradisi tersebut dengan nilai Islam. Beliau menggunakan Majelis Taklim sebagai ruang dialog, bukan sekadar ruang instruksi. Sehingga dalam perjalanan dakwahnya, Kuranji menjadi pusat rujukan.
TGH. Ihsan Ismail sering kali menjadi tempat bertanya (Mufti tak resmi) bagi masyarakat jika terjadi perselisihan sosial. Beliau dikenal mampu mendamaikan konflik antar-warga dengan pendekatan agama yang menyejukkan. Ada tiga prinsip yang dipegang secara penuh dalam berdakwah oleh beliau yaitu:
• Dakwah Bil-Hal: Beliau lebih banyak memberi contoh melalui perilaku (dakwah dengan perbuatan) daripada sekadar retorika di mimbar.
• Pendidikan Berbasis Masyarakat: Pengajian-pengajian kecil yang beliau asuh menjadi oase bagi masyarakat petani dan buruh di sekitar Kuranji untuk mendapatkan pencerahan batin.
• Keteguhan Prinsip: Beliau dikenal sangat disiplin dalam menjaga waktu dan kemurnian niat dalam mengajar.
Tanpa Sorot Lampu: Menjauh Dari Popularitas
Mengabdi Tanpa Sorot Lampu bukanlah sekadar kiasan. TGH. Ihsan Ismail adalah sosok yang menghindari publisitas. Di era di mana banyak tokoh agama mulai terjun ke politik praktis atau mengejar pengaruh massa yang besar, beliau tetap setia di jalurnya sebagai pendidik umat.
Beliau mewariskan sebuah paradigma kepemimpinan yang langka di era digital ini, yaitu Mengabdi Tanpa Sorot Lampu. sosok beliau menjadi pengingat bahwa ketulusan (ikhlas) adalah kunci keberlanjutan sebuah pengabdian. Beliau bukanlah sosok yang mengejar mimbar-mimbar megah atau pengakuan dari otoritas formal.
Baginya, dakwah bukan tentang seberapa luas jangkauan suara, melainkan seberapa dalam getarannya meresap ke dalam sanubari umat. Di saat banyak orang berlomba-lomba mencari panggung agar suaranya didengar hingga ke ujung negeri, beliau memilih untuk tetap berada di garis sunyi di surau-surau kecil, di bawah keremangan pelita, dan di sela-sela kehidupan masyarakat jelata.
Keputusannya untuk menolak popularitas adalah sebuah kritik bisu bagi zaman yang serba pamer. Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada berapa banyak orang yang mengenali wajahnya, tetapi pada berapa banyak keberkahan yang dirasakan orang lain dari kehadirannya meski nama sang pemberi tak pernah disebut dalam doa yang lantang. Tanpa Sorot Lampu bukanlah sebuah kekalahan. Namun itu adalah kemenangan atas ego. Beliau adalah pengingat bahwa di dunia yang bising ini, keheningan sering kali menyimpan kebenaran yang paling nyaring.
Meskipun TGH. Ihsan Ismail telah berpulang, warisannya tidak berupa monumen fisik semata, melainkan pembentukan karakter yang disalurkan melalui murid-muridnya dan putra tercintanya yaitu TGH. Muhajirin Isma’il (Pimpinan Ponpes Manba’ul Ulum ) dan kedamaian yang ditinggalkannya di wilayah Kuranji dan Dasan Ketujur Gerung..Beliau membuktikan bahwa pengaruh sejati seorang tokoh agama tidak diukur dari berapa banyak kamera yang menyorotnya, melainkan seberapa dalam nilai-nilainya tertanam di hati masyarakat.
Ketika seorang tuan guru berdakwah demi ketenaran, maka ajarannya akan mati saat namanya dilupakan. Namun, karena Datoq Kuranji berdakwah demi kebenaran murni, maka ajarannya menjadi milik umat, bukan milik pribadinya. Orang-orang mengamalkan nilai-nilainya bukan karena ingin menghormati "nama" Datoq Kuranji, melainkan karena nilai tersebut memang benar dan bermanfaat bagi hidup mereka.
Datoq Kuranji adalah pengingat bagi kita semua bahwa pengabdian yang paling tulus adalah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, jauh dari tepuk tangan manusia, namun bergemuruh di langit sebagai amal jariyah. Tentu warisan pemikiran ini menjadi standar moral bahwa keberhasilan seorang Tuan Guru bukan dilihat dari banyaknya pengikut di media sosial, melainkan dari kedamaian dan kesalehan masyarakat yang dibinanya. [ ]
