Penulis: Abdurrasid | Penyuluh Agama KUA Kecamatan Lembar
Di sebuah sudut Lombok Barat, dari dusun sederhana bernama Batu Samban, lahir seorang ulama yang kelak menjahit dua hal yang sering dipertentangkan: agama dan negara.
Namanya TGH. Muhiwan Roji, atau yang lebih akrab disapa Guru Iwan. Ia bukan hanya pendakwah, bukan pula sekadar pendiri pesantren. Ia adalah arsitek peradaban, yang meyakini bahwa iman tanpa cinta tanah air akan rapuh, dan nasionalisme tanpa spiritualitas akan hampa. Keyakinan itu pula yang melahirkan Pondok Pesantren Nujumul Huda “Bintang-Bintang Petunjuk”, sebuah pesantren yang sejak awal diniatkan bukan hanya mencetak santri yang saleh secara ritual, tetapi juga utuh sebagai warga bangsa.
Muhiwan Roji lahir pada tahun 1943 dari keluarga sederhana. Sejak kecil, ia telah ditempa oleh kerja keras dan pendidikan karakter dari kedua orang tuanya. Ia menggembala ternak, membantu keluarga, dan dikenal sangat berbakti, terutama kepada ibunya. Karena ketekunan dan kecerdasannya, perhatian orang tua lebih banyak tertuju kepadanya.
Naluri keulamaan itu kemudian diasah ketika ia mondok di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, berguru kepada ulama besar Lombok, TGH. Muhammad Saleh Hambali (Datok Bengkel). Tak sebentar, Muhiwan Roji menghabiskan sekitar 14–15 tahun belajar di sana. Ia tidak hanya menghafal kitab, tetapi menyerap ruh keilmuan dan tasawuf yang kelak membentuk kepribadiannya yang tawadhu, disiplin, dan kokoh dalam prinsip.
Menariknya, bahkan sebelum resmi menjadi alumni, Muhiwan Roji sudah mulai berdakwah. Ia membuka pengajian Al-Qur’an di rumahnya sendiri di Batu Samban. Dari satu dusun ke dusun lain, namanya mulai dikenal sebagai guru Qur’an yang bersahaja namun mencerahkan.
Dari sinilah kiprahnya melebar, melintasi Kecamatan Gerung, Lembar, hingga Sekotong. Ia menikah dengan Hj. Siti Khadijah, sesama murid Datok Bengkel, dan bersama-sama mengabdikan hidup untuk dakwah dan pendidikan.
Madrasah pertama yang ia dirikan berdinding anyaman daun kelapa. Tak ada karpet merah. Tak ada dana besar. Yang ada hanyalah tekad, gotong royong, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan perubahan.
![]() |
| TGH. Muhiwan Roji |
Kharisma dan ketokohannya membuat masyarakat menaruh kepercayaan besar padanya. Pada awal 1980-an, TGH. Muhiwan Roji diminta terjun ke politik melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan terpilih sebagai anggota DPRD Lombok Barat. Namun ia tidak pernah menanggalkan identitasnya sebagai ulama. Di parlemen, ia menjadi rujukan moral, memastikan kebijakan berpihak pada pendidikan Islam dan masyarakat kecil. Ia membuktikan bahwa sarung dan parlemen bisa bersinergi demi kemaslahatan bangsa.
Kami Sudah Siap Menanggung Risiko
Sekitar akhir 1980-an, di hadapan ribuan undangan saat peresmian Pondok Pesantren Nujumul Huda, TGH. Muhiwan Roji menyampaikan sambutan yang hingga kini masih dikenang para jamaahnya. Dengan suara tenang namun penuh keteguhan, ia berkata:
“Kami sudah sanggup mendirikan pondok pesantren, berarti kami sudah sanggup menanggung segala risiko… Mudah-mudahan anak didik kami menjadi umat yang berkualitas, bukan umat yang hanya banyak jumlahnya, tetapi seperti buih yang dibawa air bah.”
Kalimat itu bukan retorika. Itu adalah ikrar hidup. Sejak awal, beliau sadar bahwa membangun pesantren berarti siap menghadapi keterbatasan, tekanan, dan tantangan zaman. Namun baginya, kualitas umat jauh lebih penting daripada sekadar kuantitas.
Nama Nujumul Huda bukan hiasan. Bagi TGH. Muhiwan Roji, setiap santri harus menjadi “bintang petunjuk”, mampu memberi arah di tengah kebingungan zaman.
Dalam penjelasan logo pesantren, ia menegaskan makna segilima Pancasila sebagai simbol bahwa pesantren ini berdiri tegak di bawah naungan NKRI. Santri dididik untuk menjadi agamais sekaligus Pancasilais. Baginya, Pancasila bukan lawan syariat, melainkan payung bersama agar nilai-nilai Islam bisa tumbuh subur di Nusantara. Moderasi beragama (wasathiyah) menjadi napas pendidikan: teguh dalam akidah, santun dalam pergaulan, dan menghargai perbedaan sebagai sunnatullah.
Semasa hidupnya, TGH. Muhiwan Roji aktif berdakwah di 44 masjid, menjalin muamalah lintas agama dengan umat Hindu dan Budha di berbagai wilayah Lombok. Ia tidak mengajarkan kecurigaan, melainkan keteladanan.
Cinta tanah air selalu ia sematkan dalam setiap pengajian, ia senantiasa mengingatkan; “Jika negara kacau, kita tidak bisa mengaji dengan tenang,” kepada setiap jamaahnya. Bagi beliau, menjaga NKRI adalah bagian dari menjaga agama.
Tahun 1997, beliau wafat dalam keadaan berdakwah, sebuah akhir yang seolah menjadi penegas hidupnya. Kini, warisan terbesarnya bukanlah bangunan, melainkan ribuan santri yang tersebar di berbagai bidang: akademisi, pengusaha, politisi, aktivis sosial, dan penjaga moderasi. Mereka membawa satu pesan yang sama: “Al-Qur’an di tangan kanan, Pancasila di tangan kiri”.
Jika harus dirangkum dalam satu mutiara hikmah, barangkali pesan TGH. Muhiwan Roji adalah ini: “Agama dan bangsa adalah dua sayap. Jika salah satunya patah, kita tak akan pernah terbang. Maka jadilah santri yang menjaga iman tanpa melupakan Indonesia.”

