![]() |
| Mahasiswa Universitas Hamzanwadi saat belajar Kewirausahaan di Komiku Tanjung Teros |
SELAPARANGNEWS.COM - Pusat Inovasi dan Inkubasi Bisnis (PIIB) Universitas Hamzanwadi melaksanakan kegiatan kunjungan industri kuliner ke beberapa industri lokal, salah satunya “Komiku”, brand usaha kuliner ikonik yang berlokasi di Tanjung Teros, Lombok Timur, Sabtu (23/05/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Kewirausahaan yang bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai dunia usaha dan pengembangan bisnis berbasis potensi lokal.
Kepala PIIB Universitas Hamzanwadi, Fahrurrozi, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan kunjungan industri menjadi penting untuk memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang kewirausahaan.
Berdasarkan hasil Tracer Study tahun 2024 oleh Pusat Karir Universitas Hamzanwadi, dari 1.035 lulusan yang mengisi angket, sebanyak 57,58 persen belum bekerja, sedangkan lulusan yang memilih jalur wirausaha baru mencapai 15,26 persen.
“Hasil ini menunjukkan perlunya pembelajaran aktif dan kontekstual yang mampu melatih soft skills dan hard skills mahasiswa, meningkatkan rasa tanggung jawab dan inisiatif, menciptakan pengalaman dunia nyata, serta mendorong inovasi dan evaluasi pembelajaran yang lebih objektif dan holistik,” ujarnya.
Sementara itu, Dosen Mentor kegiatan, Dr. Bq. Liana Widiyanti, menjelaskan bahwa kunjungan industri dilakukan untuk memberikan inspirasi kepada mahasiswa mengenai proses memulai dan menjalankan bisnis secara nyata.
“Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada pertemuan ketiga atau keempat Mata Kuliah Kewirausahaan. Industri yang dikunjungi dipetakan oleh tim PIIB berdasarkan business stream yang dipilih mahasiswa, sedangkan mentor bertugas mendampingi selama proses kunjungan industri berlangsung,” jelasnya.
Dalam sesi wawancara, pemilik usaha Komiku membagikan kisah perjuangannya membangun usaha dari modal awal Rp200 ribu. Usaha tersebut lahir dari keresahan terhadap melimpahnya hasil panen stroberi di Sembalun yang sering mengalami penurunan harga dan berisiko rusak ketika musim panen raya.
Berawal dari tren minuman Korean Milk pada tahun 2020, pemilik Komiku mencoba mengolah stroberi lokal menjadi produk minuman dengan resep homemade yang dipelajari secara mandiri melalui berbagai proses trial and error. Dari penjualan awal sebanyak 10 botol, usaha tersebut berkembang hingga mampu menghasilkan omzet jutaan rupiah per hari.
Pemilik Komiku juga menekankan pentingnya branding dalam membangun usaha. Nama “Komiku” dipilih sebagai identitas merek agar produk memiliki ciri khas dan mudah dikenali masyarakat.
“Semua orang boleh meniru usaha kita, tetapi kita harus punya identitas dan ciri khas sendiri. Yang terpenting adalah masyarakat mengenal brand dan kualitas produk kita,” ungkapnya.
Selain berbagi pengalaman mengenai strategi pemasaran dan pengembangan produk, pemilik usaha juga menjelaskan berbagai tantangan dalam menjalankan bisnis makanan dan minuman, mulai dari menjaga kualitas produk, proses distribusi, hingga pengelolaan produksi secara mandiri.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori kewirausahaan di ruang kelas, tetapi juga memperoleh wawasan nyata mengenai proses membangun usaha, inovasi produk, branding, serta pentingnya keberanian memulai bisnis berbasis potensi lokal. (SN)
