Notification

×

Iklan

Iklan

Sudah Masuk Tahun Ajaran Baru Namun Tabungan Belum Diberikan, Wali Murid SDN 1 Rensing Bat Tuntut Pertanggungjawaban Sekolah ‎

Selasa, 21 Juli 2026 | Juli 21, 2026 WIB Last Updated 2026-07-21T08:17:00Z

Wali murid kelas 1 SDN 1 Rensing Bat, Kecamatan Sakra Barat saat mendatangi Sekolah untuk meminta pertanggungjawaban

SELAPARANGNEWS.COM - Puluhan Wali Murid SDN 1 Rensing Bat, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, mendatangi sekolah untuk menuntut kejelasan terkait tabungan anak-anak mereka yang hingga kini belum juga dikembalikan. Total tabungan yang belum dibagikan diperkirakan mencapai lebih dari Rp35 juta. 

‎Aksi para wali murid dipicu kekecewaan setelah berulang kali mendatangi sekolah namun hanya menerima janji tanpa kepastian kapan uang tersebut akan diserahkan. Mereka berharap pihak sekolah segera bertanggung jawab dan memberikan solusi atas persoalan yang telah berlarut-larut.

‎Salah seorang wali murid, Patmiwati, mengatakan bahwa tabungan yang belum diberikan itu hanya siswa kelas I.  Tabungan anaknya sendiri sebesar Rp2.720.000 belum juga diterima hingga memasuki tahun ajaran baru ini. Ia menyebutkan, jumlah siswa kelas I yang mengalami nasib serupa sekitar 20 orang, dengan total mencapai sekitar Rp35 juta lebih. 

‎"Kami datang menagih hak anak kami. Tabungan anak saya sekitar Rp 2.720.000 belum dikasih. Yang belum menerima ini banyak, sekitar dua puluhan orang dengan total sekitar Rp35 jutaan. Sampai sekarang belum ada penjelasan siapa yang akan bertanggung jawab," ujarnya ditemui di Sekolah. Selasa, (21/07/2026). 

‎Kata dia, sudah enam kali mereka mendatangi sekolah untuk meminta kepastian, namun belum pernah memperoleh jawaban yang jelas bahkan kepala sekolah kerap tidak hadir menemui mereka. 


"Sudah enam kali kami datang ke sini, Dan hari ini kami sudah menunggu dari jam enam pagi tapi belum juga ada kejelasan. Ibu guru yang memegang tabungan juga tidak pernah datang ke sekolah. Katanya sudah dicari oleh pihak sekolah, tetapi kata pihak sekolah orangnya tidak ketemu," Jelas Patmiwati.

‎Ia berharap pihak sekolah segera mengambil langkah konkret pertanggungjawaban dan memastikan kapan tabungan para siswa tersebut akan dikembalikan.

‎Keluhan serupa disampaikan wali murid lainnya bernama Zamroni. Meskipun tabungan anaknya sekitar Rp900 ribu, namun uang tersebut sangat dibutuhkan untuk keperluan pendidikan di awal tahun ajaran baru. 

‎"Kami hanya ingin ada kepastian. Kalau memang belum bisa diberikan sekarang, buatlah perjanjian kapan uang itu akan dibayarkan. Sampai saat ini kami masih berusaha untuk bersabar," ujarnya.

‎Ia mengungkapkan, keterlambatan pengembalian tabungan itu membuatnya terpaksa harus mengambil pinjaman kepada tetangga untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.

‎Berdasarkan informasi yang dihimpun, tabungan para siswa kelas 1 yang belum dibagikan itu dikelola oleh wali kelasnya inisial M, seorang guru berstatus aparatur sipil negara (ASN) asal Desa Tanjung Teros. Namun belakangan guru tersebut disebut tidak pernah masuk sekolah sehingga menimbulkan keresahan di kalangan wali murid.


Informasi yang beredar menyebutkan bahwa oknum guru tersebut pernah mengalami peristiwa serupa di sekolah lain sehingga di pindah ke SDN 1 Rensing Bat. Bahkan, lantaran masalah itu pula Ia digugat cerai oleh suaminya yang juga merupakan seorang guru.

Saeful Akbar, Kepala SDN 1 Rensing Bat, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur

‎Terpisah, Kepala SDN 1 Rensing Bat, Saeful Akbar saat ditemui di Kantor UPT Dikbud Kecamatan Sakra Barat menyesalkan perilaku oknum guru yang bersangkutan. Sepanjang karirnya, kata dia, baru kali ini mendapatkan persoalan seperti itu. Sebelumnya ketika masih di sekolah lain tidak pernah ada masalah yang ditemui. 

‎Sejak awal, lanjutnya Saeful Akbar, pihaknya telah berupaya mencari solusi atas masalah tersebut, termasuk meminta bantuan kepada guru-guru lain agar mau membantu menalangi sementara dana tabungan siswa itu. Namun, usulan tersebut tidak mendapat persetujuan karena para guru juga memiliki tanggung jawab keuangan masing-masing untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. 


‎"Saya pernah meminta tolong kepada guru-guru lain untuk urunan membantu menyelesaikan persoalan ini. Namun mereka menyampaikan juga memiliki kebutuhan masing-masing. Saya juga punya dua anak yang sedang kuliah. Kalau saya harus menanggung semuanya, tentu saya juga akan mengorbankan keluarga saya," jelasnya.

‎Saeful mengatakan bahwa pihaknya terus menghubungi guru yang bersangkutan dan meminta dia untuk bertanggungjawab. Namun setiap kali dimintai kejelasan, oknum guru itu selalu berjanji akan mentransfer uang, tetapi ternyata tidak pernah memenuhi janjiNya.

‎"Saya selalu menanyakan kepada yang bersangkutan. Jawabannya selalu akan ditransfer. Itu yang saya sampaikan kepada wali murid. Namun setiap kali waktu yang dijanjikan tiba, yang bersangkutan selalu menghilang," ungkapnya.

‎Saeful berjanji akan berupaya menghadirkan guru tersebut agar dapat bertemu langsung dengan para wali murid untuk membuat kesepakatan penyelesaian masalah. Ia juga menegaskan tidak akan menghalangi apabila masyarakat memilih menempuh jalur hukum.

‎"Kalau masyarakat ingin melapor ke aparat penegak hukum, saya serahkan. Itu hak mereka dan saya tidak keberatan," pungkasnya. (Yns) 

×
Berita Terbaru Update