Notification

×

Iklan

Iklan

Semester Akhir, Skripsi, dan Tanggung Jawab Diri: Perspektif Reality Therapy Terhadap Dinamika Emosi Mahasiswa ‎

Selasa, 03 November 2026 | November 03, 2026 WIB Last Updated 2026-11-03T15:02:26Z



Penulis: Dewi Yulianti, M.Pd | Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Hamzanwadi


‎OPINI - Semester akhir sering kali menjadi fase yang paling menantang dalam perjalanan akademik mahasiswa. Pada tahap ini, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan skripsi sebagai syarat kelulusan, tetapi juga mulai dihadapkan pada berbagai pertanyaan tentang masa depan, dunia kerja, serta harapan keluarga dan lingkungan sosial. Tidak mengherankan apabila banyak mahasiswa semester akhir mengalami perubahan emosi yang cukup signifikan, mulai dari kecemasan, stres, frustrasi, kebingungan, hingga penurunan motivasi belajar.

‎

‎Fenomena tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Namun, apabila tidak dikelola dengan baik, perubahan emosi dapat menghambat proses penyelesaian tugas akhir dan bahkan memengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Dalam konteks ini, pendekatan Reality Therapy yang dikembangkan oleh William Glasser menawarkan sudut pandang yang relevan untuk memahami sekaligus membantu mahasiswa menghadapi tantangan semester akhir.

‎

‎Reality Therapy berangkat dari asumsi bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk memilih perilakunya sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Menurut Glasser, manusia pada dasarnya terdorong oleh lima kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan rasa memiliki (love and belonging), kekuasaan atau pencapaian (power), kebebasan (freedom), dan kesenangan (fun). Ketika salah satu atau beberapa kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, individu cenderung mengalami ketidaknyamanan psikologis yang kemudian memengaruhi emosi dan perilakunya.

‎

‎Dalam kehidupan mahasiswa semester akhir, kebutuhan akan pencapaian sering kali menjadi sumber tekanan. Mahasiswa ingin segera lulus, memperoleh pengakuan atas usahanya, serta memenuhi harapan keluarga. Namun, ketika proses penyusunan skripsi menemui hambatan, seperti kesulitan mencari referensi, revisi berulang dari dosen pembimbing, keterbatasan waktu, atau menurunnya motivasi, muncul perasaan gagal, cemas, dan tidak berdaya. Dari perspektif Reality Therapy, kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh keadaan eksternal, tetapi juga oleh bagaimana mahasiswa memilih untuk merespons situasi yang dihadapinya.

‎

‎Pendekatan ini menekankan pentingnya evaluasi diri. Mahasiswa perlu bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah perilaku yang saya lakukan saat ini membantu saya mencapai tujuan kelulusan?” Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi titik awal untuk membangun kesadaran bahwa keberhasilan menyelesaikan skripsi sangat dipengaruhi oleh pilihan-pilihan sehari-hari, seperti mengatur waktu, menjaga konsistensi belajar, menjalin komunikasi dengan dosen pembimbing, dan mengelola emosi secara sehat.

‎

‎Perspektif Reality Therapy juga memiliki keterkaitan yang kuat dengan teori belajar. Dalam pandangan psikologi pendidikan, belajar merupakan proses perubahan perilaku yang terjadi melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Salah satu teori yang relevan adalah teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Bandura menjelaskan bahwa keyakinan individu terhadap kemampuannya (self-efficacy) sangat menentukan keberhasilan dalam menyelesaikan suatu tugas. Mahasiswa yang percaya bahwa dirinya mampu menyelesaikan skripsi cenderung lebih tekun menghadapi kesulitan dibandingkan mahasiswa yang meragukan kemampuannya.

‎

‎Hubungan antara Reality Therapy dan teori belajar sosial terlihat pada penekanan terhadap tanggung jawab pribadi dan kemampuan individu untuk mengendalikan perilakunya. Mahasiswa yang memiliki self-efficacy tinggi akan lebih mudah mengambil keputusan yang konstruktif ketika menghadapi hambatan akademik. Sebaliknya, mahasiswa yang terus-menerus menyalahkan situasi, dosen pembimbing, atau kondisi lingkungan berpotensi terjebak dalam siklus penundaan dan ketidakproduktifan.

‎

‎Selain itu, teori belajar kognitif juga memberikan penjelasan penting mengenai dinamika emosi mahasiswa semester akhir. Teori ini menegaskan bahwa pikiran memengaruhi perasaan dan perilaku. Ketika mahasiswa memiliki pola pikir negatif seperti “Saya tidak mampu menyelesaikan skripsi” atau “Saya pasti gagal”, maka kecemasan dan stres akan semakin meningkat. Sebaliknya, ketika mahasiswa mampu membangun pemikiran yang lebih rasional, seperti “Skripsi memang sulit, tetapi dapat diselesaikan secara bertahap”, maka kondisi emosional akan menjadi lebih stabil dan produktif.

‎

‎Dalam praktik bimbingan dan konseling, pemahaman terhadap dinamika ini sangat penting. Mahasiswa semester akhir tidak hanya membutuhkan bantuan teknis dalam penyusunan skripsi, tetapi juga dukungan psikologis untuk memperkuat kesadaran diri, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan yang efektif. Konselor maupun dosen pembimbing dapat membantu mahasiswa mengevaluasi perilakunya, menetapkan target yang realistis, serta mengembangkan strategi belajar yang lebih terarah.

‎

‎Pada akhirnya, semester akhir bukan sekadar fase untuk menyelesaikan tugas akademik, tetapi juga proses pembelajaran kehidupan. Skripsi mengajarkan mahasiswa tentang disiplin, ketekunan, manajemen waktu, pengendalian emosi, dan tanggung jawab terhadap pilihan yang diambil. Dari perspektif Reality Therapy, keberhasilan bukan hanya diukur dari selesainya skripsi, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa untuk mengambil kendali atas dirinya sendiri dan bertanggung jawab terhadap masa depannya.

‎

‎Oleh karena itu, mahasiswa semester akhir perlu memandang skripsi bukan sebagai beban yang harus ditakuti, melainkan sebagai sarana pembelajaran yang membentuk kedewasaan pribadi. Ketika tanggung jawab diri tumbuh dan keyakinan terhadap kemampuan diri semakin kuat, berbagai gejolak emosi yang muncul selama proses penyusunan tugas akhir dapat dikelola secara lebih sehat dan produktif. Dengan demikian, perjalanan menuju kelulusan tidak hanya menghasilkan gelar akademik, tetapi juga melahirkan individu yang lebih matang dalam menghadapi tantangan kehidupan.  [ ]

×
Berita Terbaru Update