Notification

×

Iklan

Iklan

DPP HKTI NTB Luruskan Soal Perbedaan Persepsi 10 Juta Sapi

Friday, October 23, 2020 | October 23, 2020 WIB Last Updated 2021-04-01T16:49:01Z

Foto: Iwan Setiawan, Sekretaris DPP HKTI NTB

Lombok Timur, Selaparangnews.com – Munculnya berbagai asumsi miring dari berbagai kalangan masyarakat terkait program 10 juta sapi yang diluncurkan Dewan Pengurus Provinsi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPP HKTI) Nusa Tenggara Barat (NTB) baru-baru ini, Mendorong DPP HKTI NTB untuk memberikan penjelasan secara panjang lebar dan lebih teperinci.

Sebagaimana dipaparkan Sekretaris DPP HKTI NTB, Iwan Setiawan, Program 10 Juta sapi HKTI NTB itu merupakan program riil dengan tahapan perhitungan yang rigit. Bahkan, detailnya telah dirincikan di dalam draft perjanjian kerja sama antara HKTI NTB, PT. Karya Hoqi dan PT. Mineral Energi Mulia (MEM).

Pertama, lanjut Iwan, HKTI NTB mendorong kerja sama dengan PT. MEM yang tidak lain merupakan anak perusahaan dari PT. Karya Hoqi, untuk mendatangkan sapi dari Australia, di mana modal HKTI NTB itu bersumber dari PT. Karya Hoqi. Lalu, sambungnya, ada kontrak kedua yaitu kontrak kerja sama antara HKTI NTB dengan PT. Karya Hoqi.

Pada kontrak kedua itu, tegas Iwan, PT. Karya Hoqi berkewajiban untuk membeli kembali kepada HKTI NTB dalam bentuk daging yang sudah dipotong, dan PT. Karya Hoqi selaku pembeli memasarkannya ke pasar yang sudah jelas, yaitu pangsa pasar Timur Tengah, “

"Jadi di sana ada dua kontrak, pertama kontrak PT. MEM dengan HKTI NTB untuk pembelian sapi. Dana HKTI NTB berasal dari PT Karya Hoqi. Kemudian nanti sapi yang dikelola oleh HKTI NTB ini, dibeli kembali oleh PT. Karya Hoqi dalam bentuk daging yang siap diekspor ke Timur Tengah,” paparnya. Jum’at, 23/10/2020.

Iwan memperjelas posisi HKTI NTB dalam sistem kerja sama itu, terutama yang berkaitan dengan permodalan. "Nah modal awal ini kita telah MoU dengan PT Karya Hoqi. PT Karya Hoqi menaruh modalnya secara sah di rekening HKTI NTB untuk dijadikan modal bagi HKTI membeli sapi kepada PT MEM. Harus diketahui juga PT MEM ini adalah anak perusahaan dari PT Karya Hoqi, jadinya Direktur Utamanya satu, yaitu Haji Bachtiar," imbuhnya. 

Dalam kontrak kerjasama antara HKTI NTB dengan PT. MEM, kata Iwan, sangat jelas tertulis dalam draf kerja sama kedua belah pihak bahwa HKTI NTB akan didropkan 10 juta sapi secara bertahap dalam jangka waktu 5 tahun. Dengan catatan jika tidak cukup 5 tahun, maka HKTI NTB diberikan waktu tambahan dengan rincian 600 ribu ekor sapi per tahun.

"Jadi di dalam kontrak kerja sama antara HKTI NTB dan PT. MEM, yang merupakan anak perusahaan dari PT. Karya Hoqi itu dikatakan bahwa HKTI NTB akan didropkan 10 juta ekor sapi bakala (brahma) dalam 5 tahun, dengan catatan, jika tidak cukup 5 tahun, maka akan ada perpanjangan bagi HKTI NTB. Untuk per tahunnya akan didrop ke HKTI 600 ribu ekor sapi," urainya.

Angka 10 juta ekor sapi yang diberikan kepada HKTI NTB itu merupakan jumlah kuota yang diberikan oleh Kementerian Pertanian RI kepada PT. Karya Hoqi untuk memenuhi pasar ekspornya ke Timur Tengah. Artinya PT. Karya Hoqi melimpahkan seluruh kuotanya untuk HKTI NTB.

"Adapun Kenapa kita taruh 10 juta itu merupakan kuota yang diberikan oleh Kementerian Pertanian kepada PT. Karya Hoqi untuk ekspor daging ke Timur Tengah, khususnya sebanyak 10 juta ekor"

Lebih lanjut, HKTI NTB akan membeli sapi dari anak perusahaan PT. Karya Hoqi yaitu PT. MEM, sebanyak jumlah kuota tersebut. Jadi dari Australia didatangkan ke NTB, dari NTB dipelihara 3 bulan, seterusnya disembelih di Lombok, dipacking di Lombok, baru diekspor ke Timur Tengah dan berbagai negara," paparnya.

Lanjutnya, apabila 10 juta sapi itu tidak mampu dikelola oleh HKTI NTB dalam waktu 5 tahun yang telah ditetapkan, maka HKTI NTB telah mengantisipasi kemungkinan itu dengan menjalin kerjasama dengan DPP HKTI Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk penyediaan lahan ternak.

"Jadi 10 juta itu, ketika tidak cukup di NTB kita akan lari ke NTT, karena bekerja sama dengan PT Karya Hoqi ini tidak mutlak di Lombok dan Sumbawa, kami juga sudah menyiapkan lahan di wilayah NTT, bekerjasama dengan DPP HKTI Nusa Tenggara Timur," tegasnya.

Sambung Iwan, tidak benar jika akan didatangkan langsung secara bersamaan sebanyak 10 juta sapi ke NTB, atau 1 juta sapi ke Lombok Timur dalam satu waktu dan tempat yang sama, malahan menurutnya hal itu adalah sebuah kemustahilan.

"Tidak benar dan tidak mungkin 10 juta sapi ke NTB atau 1 juta untuk Lombok Timur sekaligus. Itu mustahil. Tapi akan dijalankan bertahap. Jadi tidak ada hal-hal yang aneh di sini, tidak ada hal-hal yang tidak masuk akal, jadi prosedurnya pun sangat sangat gampang, jadi kita HKTI NTB mencari peternak yang betul-betul peternak," sebutnya.

Dirinya juga menyatakan jika saat ini, pihaknya di HKTI NTB akan berupaya maksimal mendatangkan 25 ribu ekor sapi di triwulan ke lV, atau sampai akhir tahun 2020 ini, sembari menunggu normalnya prasarana dan sarana serta aktivitas Pelabuhan Pelindo ll Gili Mas Lombok Barat.

"Nah kami berupaya 25.000 ekor untuk tahun 2020, sisa akhir tahun ini didatangkan di akhir tahun ini, nanti 2021 berlaku normal, menunggu normalnya Pelabuhan Pelindo ll yang ada di Gili Mas," katanya.

Nantinya dalam keadaan normal, dalam satu bulan akan dilakukan pengiriman sapi dari Australia ke NTB sebanyak 50 ribu ekor sapi.

"Muatan 1 kapal  25 ribu ekor,  kalau  normal nantinya, nah harapannya setiap bulan itu 2 kapal, berarti rata-ratanya 50 ribu ekor sapi per bulan. Itu normalnya," sebutnya.

Dalam kesempatan itu, Ia juga menjelaskan secara rinci kembali, terkait pola binaan bagi peternak yang akan menerima program HKTI NTB ini.

"Sistemnya juga bukan "ngadas"  yang kadang keuntungannya dibagi 3. Nanti peternak itu akan mendapatkan keuntungan pasti, yaitu 100 persen dari berat lebih sapi pada penimbangan awal/bibit," paparnya.

Lebih lanjut dirinya juga menjelaskan terkait prioritas yang dituju dari program ini yaitu orang yang betul-betul berprofesi sebagai peternak, baru selanjutnya ke pola lain dengan berkerjasama dengan pondok pesantren.

"Program ini diprioritaskan untuk "pengadas", Peternak atau orang-orang yang ingin belajar menjadi peternak. Nah setelah itu terealisasi, baru kita beralih ke pondok-pondok pesantren, yang tentunya  tidak mungkin dipelihara oleh seluruh masyarakat kita  yang bukan peternak, karena memelihara sapi ini juga butuh ketekunan, keuletan," ungkapnya.

Tegasnya kembali, program sapi ini tidak mungkin akan diberikan kepada orang yang tidak memiliki keahlian di peternakan sapi, karena ada konsekuensi masing-masing, baik itu penerima program (peternak) dan atau HKTI NTB sendiri.

"Jadi tidak bisa mentang-mentang kita berikan kepada guru dan masyarakat yang tidak punya keahlian berternak sapi untuk kita berikan. Tidak. Nanti mereka demam panggung, seolah-olah ini seperti sapi bantuan hibah. Rugi kita. Jadi tidak demikian"

Sambungnya semua sama-sama memiliki tanggung jawab, peternak memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan menambah berat, semakin rajin, semakin besar, semakin banyak keuntungan," cetusnya.

Untuk harga daging sapi yang akan dibeli oleh PT. Karya Hoqi kepada peternak binaan HKTI NTB, tegasnya sudah tercantum dalam nilai kontrak yakni Rp 55 ribu/Kg dari berat hidup sapi per ekor.

"Untuk harganya, kita mengacu harga dunia dan tertera di kontrak yaitu 55.000/Kg berat hidup. Jadi sangat tinggi, di atas rata-rata angka berat hidup sapi lokal, jadi untuk itulah kami harapkan kepada seluruh masyarakat peternak untuk mempersiapkan diri," harapnya.

Hal lain yang tidak luput dari perhatiannya adalah soal ketersediaan pakan dan kualitas kandang. Dari itu HKTI NTB tegasnya akan memberikan bantuan modal awal kepada peternak, sesuai dengan jumlah sapi yang akan digemukkan oleh peternak bersangkutan untuk biaya pakan dan pemeliharaan kandang. 

"Termasuk yang paling penting ketersediaan pakan di wilayah setempat, tidak bisa serta-merta kita taruh sapinya kalau pakannya tidak ada, karena ada dua jenis nanti pakannya, ada pakan fermentasi ada pakan alami berupa tanaman hijau rerumputan yang harus dicari oleh peternak. Menyikapi itu HKTI menyediakan modal awal bagi peternak. Modal awal di HKTI itu untuk pembelian pakan dan untuk pemeliharaan kandang, sesuai dengan ternak sapi yang diterimanya," ulasnya.

Dirinya juga memastikan jika tidak ada praktek pungutan dari awal sampai akhir bagi peternak dalam program HKTI NTB ini. Bahkan jika ada temuan, Ia meminta untuk segera dilaporkan ke pihaknya.

"Saya tegaskan tidak ada pungutan Satu rupiah pun terhadap peternak. Kalau ada yang mengatasnamakan HKTI memungut dana untuk program ini tolong laporkan kepada kami, karena sampai proses penjualanpun tidak ada pungutan peternak," tegas lelaki yang memiliki sapaan Giok itu.

Jadi, lanjutnya pula, siapa saja boleh mengakses program ini, yang penting dia peternak atau mau belajar berternak, serta memiliki kandang dan ketersedian pakan di lokasi masing-masing.

Atas penjelasannya itu, dirinya meminta bantuan kepada media agar mensosialisasikan program ini secara utuh. Agar tujuan dan maksud dari program ini diketahui utuh oleh masyarakat, serta menghindari cemoohan atau pesimisme pihak yang tidak memahami program ini.

"Kepada rekan-rekan media juga kami mengharapkan bantuannya, untuk menyampaikan informasi ini secara utuh kepada masyarakat secara utuh, dan kepada para pihak yang masih  mempertanyakan program ini. Karena tujuan program HKTI ini riil, nyata untuk mensejahterakan masyarakat NTB, Lombok Timur pada khususnya," tutupnya. (*)

×
Berita Terbaru Update