Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Didampingi TGB, Kepala BNPT Kunjungi Makam Pahlawan Nasional Maulana Syaikh

Rabu, 11 November 2020 | November 11, 2020 WIB Last Updated 2021-04-01T15:55:49Z

Foto: TGB TGKH. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA., Ketua Umum PBNW (kiri) bersama dengan Komjen Pol Boy Rafli Amar Kepala BNPT (kanan), saat menaburkan bunga sebagai tanda penghormatan di makam Pahlawan Nasional TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau Maulana Syaikh

Lombok Timur, Selaparangnews.com - Didampingi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) TGKH. Muhammad Zainul Majdi, Lc, MA. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar beserta rombongan, hari ini (11/11) mengunjungi Makam Pahlawan Nasional TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang berlokasi di Lingkungan Bermi, Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Yang sekaligus menjadi pendiri NW, organisasi Islam terbesar yang ada di NTB.

Pada kesempatan itu, turut hadir juga Kapolres Lombok Timur AKBP. Tunggul Sinatrio, S.IK. SH., Ketua Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor H. M. Djamaluddin, BE., M.Kom, Amidul Ma'had Darul Qur'an Wal Hadist TGH. M. Yusuf Ma'mum, Jajaran Tuan Guru yang mengajar di MDQH NW Pancor, serta beberapa Santri dan Santriwati lingkup YPH PPD NW.

Pada acara yang diawali dengan tabur bunga serta memanjatkan do'a di Makam Pahlawan tersebut, Komjen Rafli menjelaskan bahwa TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau yang lebih dikenal dengan Maulana Syaikh telah diakui oleh Negara sebagai pejuang.

"Maulana Syaikh sudah diakui oleh Negara, bukan hanya mendidik tapi juga ikut gerakan untuk berjuang dimasa sebelum kemerdakaan," jelasnya. Rabu, 11/11/2020.

Pada awal perjuangan, lanjutnya, Maulana Syaikh memang dikenal dengan seorang guru atau pendidik. Namun seiring dengan berkembangnya sistem pendidikan yang diinisiatorinya, itulah yang menyebabkan bidang yang lain juga mengikuti seperti sosial kemasyarakatan dan budaya.

Bahkan, menurutnya Maulana Syaikh bukan hanya menjadi pejuang dibidang pendidikan. Namun lebih dari itu, makna yang terkandung dalam penyebutan kata "Pahlawan Nasional", dalam pandangannya berarti mereka adalah orang yang telah melakukan gerakan kemerdekaan.

Adapun saat ini, sesuai dengan peninggalan Maulana Syaikh, ia mengatakan peran santri untuk menjadi tameng utama penyebaran terorisme harus bisa dimaksimalkan. Mengingat, salah satu instrumen peninggalan Maulana Syaikh ialah bidang pendidikan.

Yang artinya, ia menjelaskan jika dunia pendidikan terlebih lagi pada Ponpes juga wajib perperan aktif untuk mencegah jaringan terorisme. Pasalnya, sebagian dari kalangan terorisme merupakan orang-orang yang telah mengenyam di dunia Pondok Pesantren.

"Perlu hati-hati kalau ada bujukan dari pihak tertentu, karena kriterinya salah satu adalah yang sudah mengenyam di Ponpes," kata Komjen Rafli.

Oleh sebab itulah, dirinya mengharapkan ke depannya agar bisa berkolaborasi dengan NW yang notabenenya merupakan organisasi yang mempunyai Ponpes terbesar di NTB. Hal tersebut, ia harapkan agar masyarakat jangan sampai terkendali oleh jaringan terorisme.

"Salah satu kolaborasi yang kami bentuk ialah membangun koordinasi dengan Ulama," sebutnya. Karena, diakuinya salah satu ciri khas teroris di Indonesia yakni sering menggunakan simbol agama untuk melancarkan aksinya.

Di tempat yang sama, saat memberikan sambutan Ketua Umum PBNW Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA. menerangkan bahwa perjuangan Maulana Syaikh bukan hanya pada wejangan kesilaman. Namun, juga pada pengokohan nilai-nilai kebangsaan.

"Maulana syaikh mendirikan NW tidak hanya menyebarkan nilai kesilaman ,tapi juga mengokohkan nilai kebangsaan," tuturnya.

Ia mengungkapkan, Maulana Syaikh yang juga merupakan Kakek dari TGB ini, pernah mengibaratkan antara nilai keislaman dan kebangsaan, itu bagaikan satu koin dengan sisi yang beda. Yang pada tafsirannya, menjadi Muslim yang baik berarti menjadi warganegara yang baik pula.

Sehingga, kata pria yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) ini menuturkan jika Maulana Syaikh tidak pernah memsihakan antara nilai kebangsaan dan keislaman. Tentunya, ajaran tersebut ditularkan sampai dengan saat ini kepada seluruh santri dan santriwatinya.

Saat ini, berdasarkan data yang ia pegang NW sudah mempunyai 24 kepengurusan yang tersebar di seluruh Provinsi se Indonesia. Dengan lebih dari 1.000 Sekolah dan Madrasah yang didirikan oleh murid-murid dari Maulana Syaikh.

Partisipasi NW dalam membangun Negeri, lanjutnya, sudah dibuktikan dengan keikutsertaannya dijajaran kepemerintahan. Seperti yang dapat dilihat saat ini yaitu beberapa warga NW juga menduduki jajaran pemerintah.

Pria yang juga pernah dinobatkan sebagai Gubernur termuda ini, menjelaskan NW pada dasarnya mengajarkan tentang nilai-nilai washatiyah. Yang artinya memaknai keberagaman di dalam Islam itu sendiri.

"Cinta teguh pada agama, cinta kokoh pada Negara," kutip TGB dalam salah satu pesan yang pernah disampaikan oleh Maulana Syaikh. semasa hidupnya. (fgr)

×
Berita Terbaru Update