Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gelar Aksi, BEM NTB Raya Korwil II Layangkan Delapan Tuntutan

Jumat, 07 Mei 2021 | Mei 07, 2021 WIB Last Updated 2021-05-07T19:45:31Z

Foto: Aksi Demonstrasi yang dilakukan BEM NTB Raya Korwil II di Simpang Empat BRI Selong

Lombok Timur, Selaparangnews.com - Sejumlah Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusa Tenggara Barat (NTB) Raya Kordinator Wilayah II menggelar aksi demo di simpang empat BRI Selong, Lombok Timur pada Jum'at sore, 7 Mei 2021.

Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Lombok Timur menggelar aksi dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Buruh Internasional tahun 2021.


Ada delapan tuntutan yang dilayangkan dalam aksi tersebut, yang dibacakan oleh M. Lutfi Karianto selaku Kordum (Koordinator Umum) aksi.


Aktivis Mahasiswa yang juga merupakan Presma (Presiden Mahasiswa) Universitas Gunung Rinjani (UGR) itu menyebutkan bahwa tuntutan pertama ialah mendorong DPRD  dan Pemerintah Daerah untuk menyuarakan pencabutan Undang-Undang Cipta Kerja serta Peraturan Pemerintah (PP) yang menjadi turunannya.

"Kami juga menolak industrialisasi dunia Pendidikan," tegasnya.


Tuntutan kedua, lanjut Lutfi, ialah meminta Pemerintah Daerah untuk memperbaiki tata kelola terhadap Buruh Migran Indonesia (PMI) Lombok Timur.


Yang keempat, lanjutnya, ialah mendesak DPRD dan Pemerintah Daerah Lombok Timur untuk bersama-sama menyuarakan dan menuntut Kemendikbud untuk menyelesaikan pemerataan saran dan prasarana ke seluruh daerah di Indonesia, menyongsong PJPN 2020-2035.


Tuntutan yang keempat adalah Mendesak Kemendikbud untuk memperjelas nasib Mahasiswa FKIP pada poin Vokasi pada PJPN 2020-2035 dan yang kelima ialah menuntut perbaikan kurikulum dengan landasan UU Nomor 20 tahun 2003 yang sesuai dengan peserta didik.


Tuntutan selanjutnya yang dilayangkan masa aksi ialah mempermudah regulasi pengangkatan Guru Honorer menjadi PPPK. Yang ketujuh ialah mendorong Pemerintah Daerah Lombok Timur meningkatkan kualitas pendidikan karena rangking pendidikan di NTB berada di Nomor 33 deri 34 Provinsi di Indonesia.


Tuntutan terakhir ialah mendesak Pemerintah Daerah Lombok Timur untuk membentuk badan sosialisasi tentang program 1000 cendekiawan yang dicanangkan Pemerintah Provinsi NTB.


Masa aksi ditemui oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, H.M. Juaini Taofik bersama Kepala Disnakertrans, H. Supardi dan Kepala Dikbud Lotim, Ach. Dewanto Hadi beserta sejumlah pejabat lainnya.


Dalam kesempatan itu, Sekda mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh masa aksi akan segera diupayakan selama masih berada di bawah wewenang Pemkab Lombok Timur.


Terutama, lanjutnya, kebijakan yang sudah tertuang dalam road map kebijakan pemerintah Pusat terkait pendidikan akan diupayakan untuk dikoordinasikan.


"Tetapi tentu tidak semua kewenangan itu ada di Kabupaten, seperti masalah yang berkaitan dengan sekolah tingkat atas itu menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi, maka kita dorong ke Provinsi," ujarnya.


Kaitannya dengan masalah tenaga kerja, kata Sekda, memang benar bahwa NTB merupakan pengirim tenaga kerja terbesar. Dan dari 541 Kabupaten Kota yang ada di Indonesia, Lombok Timur merupakan pengirim tenaga terbesar nomor dua setelah salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Tengah.


Dia juga mengakui bahwa selama ini, PMI telah banyak memberikan remitansi kepada daerah, tetapi karena adanya Pandemi Covid-19, membuat semua itu nyaris hilang.


Ditambahkan Kepala Dikbud Lotim, Achmad Dewanto Hadi bahwa Ia sepakat dengan apa yang disampaikan masa aksi bahwa tidak semua masalah pendidikan di Indonesia bisa diselesaikan dengan program digitalisasi, khususnya mengenai transfer moral peserta didik.


"Pemkab Lotim berkomitmen bahwa digitalisasi adalah faktor pendukung, faktor utama adalah proses tatap muka antara Guru dan murid itu yang paling penting," ucapnya.


Meskipun Dewanto mengakui bahwa pendidikan di Indonesia, khususnya Lombok Timur masih menyisakan banyak persoalan. Namun dia menegaskan bahwa ada juga prestasi yang sudah diraih.


"Jangan lupa bahwa Guru-Guru kita juga berprestasi," jelasnya seraya menyebutkan bahwa jumlah Guru penggerak di Lotim itu terbanyak di Indonesia. "Perlu diketahui bahwa Lombok Timur merupakan penghasil Guru penggerak terbanyak di Indonesia," tegasnya.


Tak hanya itu, lanjutnya, hari ini Lombok Timur juga mendapat anugerah menjadi sekolah penggerak dengan klaster tertinggi di Indonesia. "Ada 24 SD, 13 SMP dan belum lagi PAUD, sehingga jangan berkecil hati, karena prestasi kita luar biasa," pungkasnya. (yns) 


×
Berita Terbaru Update