![]() |
| Penyerahan Bantuan secara simbolis oleh Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin di Pendopo Bupati |
SELAPARANGNEWS.COM - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Lombok Timur memiliki sejarah panjang dan penuh dinamika sebelum menjadi lembaga strategis seperti saat ini. Perjalanan lembaga pengelola zakat di daerah ini bahkan diwarnai gelombang penolakan keras hingga aksi demonstrasi besar-besaran.
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin mengungkapkan bahwa sebelum bernama Baznas seperti sekarang, lembaga pengelola zakat di Lombok Timur dikenal dengan nama Bazda (Badan Amil Zakat Daerah).
“Baznas ini di Lombok Timur dulu namanya Bazda, dan itu penuh dengan perjuangan. Perjuangannya tidak ringan,” ujar Haerul Warisin dalam acara penyerahan Bantuan Rumah Layak Huni (Mahyani) dan Gerobak ZKUP di Pendopo Bupati belum lama ini. Minggu, (11/01/2026).
Ia mengenang, pada masa awal pembentukan Bazda, terjadi demo beruntun dari masyarakat. Penolakan muncul akibat perbedaan pandangan, terutama terkait kebijakan pemotongan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk zakat.
“Saat itu ada selisih paham. Ada yang mengatakan tidak boleh memotong gaji untuk zakat. Ini yang memicu demo besar-besaran,” ungkapnya.
Bahkan, menurut Bupati, situasi kala itu sempat sangat mencekam. Aksi demonstrasi berujung pada pembakaran kendaraan hingga pendudukan Kantor Bupati Lombok Timur.
“Waktu itu Pak Ali BD yang menjabat sebagai bupati. Kantor bupati sampai diduduki, orang-orang menginap di situ, minta bupati mundur. Saking kerasnya demo Bazda saat itu,” tuturnya.
Setelah situasi mereda, pengelolaan zakat di Lombok Timur sempat mengalami jeda cukup panjang, sekitar lima tahun. Baru pada periode 2013 hingga 2018, upaya menghidupkan kembali gerakan zakat kembali dilakukan secara serius.
“Hasilnya alhamdulillah. Salah satu bukti nyatanya adalah berdirinya Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Lombok Timur di Labuhan Haji. Itu salah satunya bersumber dari zakat yang dikeluarkan oleh para ASN,” jelas Bupati.
Ia menegaskan, pada masa itu dirinya diminta langsung oleh Bupati Ali BD untuk mengawal pengelolaan zakat. Dari proses tersebut, terbukti bahwa dana zakat, infak, dan sedekah yang bersumber dari ASN, guru, dan PNS mampu membiayai pembangunan besar.
“Pendapatan terbesar yang bisa dikeluarkan Bazda saat itu untuk pembangunan memang murni dari zakat, infak, dan sedekah ASN,” katanya.
Memasuki periode terbaru, khususnya sejak 2025, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali mendorong optimalisasi peran Baznas agar tidak hanya bergantung pada zakat ASN semata.
“Saya bilang, kalau Ketua Baznas hanya mengelola uang pegawai negeri saja, kita ubah saja namanya kembali jadi Bazda. Tidak usah pakai nama Baznas,” tegasnya.
Namun, dorongan tersebut justru dijawab dengan kinerja nyata oleh jajaran pengurus Baznas Lombok Timur. Mereka berhasil membangun kepercayaan publik dan memperluas basis muzaki dari berbagai kalangan.
“Para pengurus membuktikan dengan kerja luar biasa. Mereka bergerak bagaimana caranya supaya para muzaki mau mengumpulkan zakatnya di Baznas, untuk kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat,” pungkas Bupati.
Kini, Baznas Lombok Timur tidak hanya menjadi lembaga penghimpun zakat, tetapi juga pilar penting dalam mendukung program kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, serta pembangunan sosial di daerah. (Yns)
