Penulis: Maryadi | Menteri Dalam Kampus BEM IAI Hamzanwadi Pancor, Kader Himmah NWDI IAI Hamzanwadi Pancor
OPINI - Kehadiran tim pengabdian Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAI Hamzanwadi Pancor di Dusun Dasan Belo, Desa Sugian, melalui agenda “Teras Baca Anak” bukanlah sekadar seremoni edukatif atau sekadar penyaluran buku bacaan. Lebih jauh, inisiatif ini merupakan sebuah upaya dekonstruksi terhadap stagnasi literasi di akar rumput, sebuah gerakan kognitif yang mencoba menjembatani jurang antara akses informasi dan realitas sosial anak-anak di pesisir desa. Dasan Belo, dengan segala karakteristik geografis dan kulturalnya, dipilih menjadi lokus perjuangan untuk mengembalikan buku ke tangan pemilik masa depan.
Agenda ini lahir dari kesadaran kolektif para Mahasiswa yang terlibat dalam Pengabdian Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAI Hamzanwadi Pancor, bahwa literasi bukan sekadar kemampuan mekanis membaca dan menulis, melainkan sebuah alat pembebasan (liberatory tool). Di Teras Baca ini, interaksi yang terjadi bukan hanya antara subjek (mahasiswa) dan objek (anak-anak), melainkan sebuah dialektika yang menghidupkan kembali "ruang ketiga" sebuah ruang publik alternatif di mana imajinasi anak-anak desa tidak lagi terpasung oleh keterbatasan fasilitas.
Literasi sebagai Fondasi Ontologis dan Kultural
Di tengah gempuran digitalisasi yang sering kali tercerabut dari konteks lokal, “Teras Baca Anak” di Desa Sugian ini menawarkan pijakan ontologis yang menarik. Literasi di sini diposisikan sebagai upaya memperkuat identitas. Anak-anak di Dasan Belo tidak hanya diajak untuk mengenal dunia luar, tetapi juga diajak untuk membaca realitas alam mereka sendiri.
Proses ini menciptakan apa yang disebut sebagai cultural hybridity dalam pendidikan non-formal, di mana teks-teks global dalam buku bertemu dengan nilai-nilai lokal (local wisdom) masyarakat Sugian. Mahasiswa/wi BEM IAI Hamzanwadi Pancor yang terlibat pada agenda Pengabdian ini berperan sebagai mediator yang memfasilitasi transformasi nilai tersebut, memastikan bahwa setiap kata yang dibaca mampu memicu nalar kritis sejak dini, tanpa menghilangkan kebanggaan mereka sebagai anak desa.
Melawan Amnesia Kognitif di Ruang Marginal
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, agenda ini adalah upaya melawan "amnesia kognitif" yang kerap melanda wilayah-wilayah yang jauh dari pusat birokrasi pendidikan. Koleksi buku yang digelar di teras-teras rumah warga bukan sekadar benda mati, melainkan instrumen "perlawanan" terhadap arus budaya instan. Teras baca ini menjadi sebuah narasi kontra-hegemonik; ia membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak harus selalu tersekat dalam dinding formalitas sekolah yang kaku.
Kegiatan ini menyentuh kegelisahan mendalam mengenai kualitas sumber daya manusia di masa depan. Jika peradaban besar dibangun di atas pondasi ilmu pengetahuan, maka setiap halaman buku yang dibuka di Dasan Belo adalah batu bata bagi bangunan peradaban tersebut. Penghormatan terhadap nalar dan ilmu yang diinisiasi oleh BEM IAI Hamzanwadi Pancor ini menjadi refleksi kritis bagi kita semua di tengah hiruk-pikuk politik dan pragmatisme, sejauh mana kita masih peduli pada pertumbuhan intelektual di sudut-sudut desa yang sunyi.
Penutup: Mengaktivasi Nalar Publik dari Teras Rumah
Maka, agenda “Teras Baca Anak” di Desa Sugian tidak boleh dipandang sebagai kegiatan filantropi satu arah. Ini adalah tanggung jawab intelektual mahasiswa untuk menarik garis penghubung antara teori di ruang kuliah dengan denyut nadi problematika masyarakat. Kita perlu melakukan Re-evaluasi terhadap pola pengabdian masyarakat, jangan sampai ia hanya menjadi penggugur kewajiban tanpa menyisakan dampak transformatif yang substansial.
Dasan Belo mengajarkan kita bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari ruang-ruang kecil yang jujur, seperti sebuah teras rumah yang dipenuhi buku dan binar mata anak-anak. Menjaga keberlanjutan Teras Baca ini adalah menjaga asa kolektif kita untuk melihat Indonesia yang lebih bernalar, lebih kritis, dan lebih manusiawi di masa depan. [ ]
