Penulis: Jayadi | Ketua Lakpesdam PWNU NTB
“Jika tangan kanan tidak mampu, maka tangan kiri yang membantu. Saling mengerti dan memahami tugas dan fungsi masing-masing. Tidak saatnya lagi iri hati, tetapi mengedepankan semangat kebersamaan, saling mendukung, merangkul, dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi sesama,” tegasnya.
Salah satu kenangan yang sulit ditinggalkan dalam bulan Ramadan adalah tradisi sederhana namun penuh makna: berbuka bersama. Apalagi jika dalam suasana penuh kehangatan, obrolan yang mengalir tanpa sekat, serta kejutan-kejutan kecil seperti kain gratis mulai dari lontar, wadimor hingga gajah duduk.
Supaya menjadi pertemuan bermakna, saya menyempatkan diri merekam salah satu momen perjalanan para alumni dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Nusa Tenggara Barat yang tengah menggelar rangkaian buka bersama dari satu rumah ke rumah alumni lainnya.
Pertemuan yang bertajuk iftor jama’i dan silaturahim Ramadan ini digagas oleh Pengurus Wilayah Ikatan Keluarga Alumni (PW IKA) PMII Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan tersebut bukan sekadar agenda berbuka puasa, tetapi juga ruang memperkuat silaturahim, menumbuhkan kembali semangat kekeluargaan, serta menjadi wadah bertukar ide-ide kreatif dan visioner dari keluarga besar PMII di daerah ini.
Sore itu, 10 Maret 2026, perjalanan silaturahim berlanjut ke kediaman sahabat Suprial Wahid di Desa Pringgasela, sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani. Suprial merupakan salah satu alumni yang menempuh jalan berbeda dari kebanyakan kader PMII. Kini ia menekuni profesinya sebagai penyalur jasa Pekerja Migran Indonesia melalui perusahaan yang ia kelola, PT Gumi Genta Selapwis.
Suasana iftor jama’i sore itu terasa hangat dan cair. Tidak ada sekat formal yang kaku. Yang hadir hanyalah obrolan santai, nostalgia masa-masa berproses, serta pertukaran gagasan yang mengalir di setiap sudut rumah lantai dua milik sahabat Suprial.
Meski lokasi Pringgasela cukup jauh, semangat para alumni dan kader aktif tidak surut. Perjalanan sekitar dua setengah jam dari Kota Mataram seolah terbayar oleh suasana kekeluargaan yang terbangun di sana.
Pertemuan itu menjadi potret kecil relasi antara PMII dan para alumninya. Keduanya ibarat dua tangan dalam satu tubuh. Mereka bukan sekadar entitas yang berdiri sendiri, melainkan kekuatan simbiotik yang saling menguatkan dalam satu napas perjuangan.
Bagi kader yang masih berjibaku di lapangan, alumni adalah jangkar intelektual sekaligus logistik. Para alumni yang kini berdiaspora di berbagai lini mulai dari birokrasi, akademisi, pengusaha hingga politisi, menjadi sumber akses dan wawasan yang tidak selalu ditemukan di buku teks.
Mereka adalah peta jalan. Ketika kader aktif menghadapi kebuntuan dalam dinamika kampus atau persoalan sosial, pengalaman para alumni sering kali menjadi alat pandu yang mengarahkan langkah. Dukungan itu tidak selalu berbentuk materi, melainkan transfer nilai, pengalaman, serta jaringan yang membuka peluang bagi para kader untuk “naik kelas” setelah menyelesaikan masa studinya.
Di sisi lain, PMII sebagai organisasi kaderisasi merupakan energi masa depan bagi para alumni. Tanpa regenerasi yang sehat, keberhasilan alumni di masa lalu hanya akan menjadi cerita nostalgia.
Kader aktif adalah laboratorium ide yang menjaga api pergerakan tetap menyala. Mereka membawa isu-isu kontemporer ke dalam ruang diskusi organisasi, mulai dari transformasi digital hingga advokasi lingkungan. Bagi para alumni, melihat kader yang kritis, berprestasi, dan progresif adalah investasi sosial yang tak ternilai. Kader yang kuat menjadi jaminan bahwa marwah organisasi akan terus terjaga di masa depan.
Dalam sambutannya pada pertemuan tersebut, H. Marinah Hardi menegaskan pentingnya memahami posisi masing-masing agar sinergi ini berjalan maksimal.
“Alumni dan PMII itu ibarat dua tangan,” ujarnya. “Alumni sebagai mentor memberi dorongan dari belakang tanpa harus melakukan intervensi berlebihan terhadap kedaulatan rumah tangga organisasi kader aktif. Sementara kader sebagai pelaksana menghormati jasa para senior, namun tetap berani melakukan inovasi agar organisasi tidak gagap zaman.”
Ia menambahkan, kebersamaan adalah kunci utama dalam relasi tersebut. “Jika tangan kanan tidak mampu, maka tangan kiri yang membantu. Saling mengerti dan memahami tugas dan fungsi masing-masing. Tidak saatnya lagi iri hati, tetapi mengedepankan semangat kebersamaan, saling mendukung, merangkul, dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi sesama,” tegasnya.
Ketika dua kekuatan ini benar-benar menyatu, PMII tidak lagi sekadar organisasi mahasiswa. Ia tumbuh menjadi sebuah ekosistem besar. Alumni menyediakan panggung, sementara kader menyiapkan pertunjukan terbaiknya.
Yang tua menuntun dengan kebijakan. Yang muda mendorong dengan keberanian. Keduanya memastikan bahwa panji biru-kuning tetap berkibar di berbagai pelosok desa dimana para alumni dan kader PMII tinggal. Alumni menjadi cermin masa depan kader, dan kader adalah wajah masa lalu alumni yang terus diperbaharui oleh zaman. [ ]
