![]() |
| Yandis, Ketua IMM Lombok Timur |
SELAPARAMGNEWS.COM - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Lombok Timur secara terbuka melayangkan tantangan sekaligus desakan kepada Bupati Lombok Timur. Mereka menuntut pemerintah daerah segera membangun Rumah Sakit di Kecamatan Pringgabaya, berkaca pada rencana pembangunan fasilitas serupa di Kecamatan Sikur.
Pringgabaya yang memegang predikat sebagai kecamatan terpadat kedua di Lombok Timur dengan populasi lebih dari 112.373 jiwa, dinilai sudah sangat layak dan mendesak untuk memiliki rumah sakit sendiri.
Aktivis IMM asal Pringgabaya, Yandis, mempertanyakan komitmen pemerintah dalam pemerataan fasilitas kesehatan. Menurutnya, jika kecamatan lain bisa memiliki rumah sakit rujukan, Pringgabaya yang memiliki beban populasi lebih besar seharusnya menjadi prioritas utama.
"Kami mendorong Bupati untuk membangun rumah sakit, bukan sekadar puskesmas. Kami melihat wilayah lain seperti Sikur bisa dibangunkan rumah sakit, pertanyaannya, kenapa Pringgabaya tidak? Padahal kita adalah kecamatan terpadat kedua setelah Masbagik," tegas Yandis lewat siaran tertulis. Kamis, (09/04/2026).
IMM juga menyoroti kebijakan Bupati yang dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan warga. Alih-alih meningkatkan status layanan, muncul rencana pemerintah yang akan menjadikan Lombok Hospital di Apitaik sebagai Puskesmas Rawat Inap.
"Rencana menjadikan Lombok Hospital sebagai Puskesmas Rawat Inap adalah sebuah kemunduran. Dengan populasi yang padat dan jarak wilayah yang luas, Pringgabaya hanya dibekali dua puskesmas. Ini sangat tidak memadai," tambah Yandis.
Kebutuhan akan Rumah Sakit Tipe D di Pringgabaya bukan tanpa alasan kuat. Yandis memaparkan tiga faktor utama yang menjadikan layanan kesehatan rujukan sebagai hal yang sangat urgen karena Zonasi Industri dan Logistik:
"Di Pringgabaya itu ada empat pelabuhan strategis di Pringgabaya yang memiliki risiko kerja tinggi. Belum lagi pusat Pendidikan. Tentu dengan berdirinya institusi seperti Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat yang melibatkan ribuan massa," Jelasnya.
I menegaskan bahwa secara geografis, jarak tempuh ke RS rujukan saat ini terlalu jauh bagi pasien dalam kondisi kritis, sehingga pembangunan fasilitas kesehatan harus berbasis pada kebutuhan riil, bukan sekadar kebijakan formalitas.
Menurutnya, Penempatan Rumah Sakit Tipe D di Pringgabaya dianggap sebagai solusi strategis untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di sektor kesehatan di Lombok Timur.
"Layanan kesehatan sangat urgen sekali. Kami meminta Bupati melihat data dan fakta di lapangan. Rakyat Pringgabaya butuh akses kesehatan yang cepat, terjangkau, dan memadai," pungkasnya. (Yns)
