![]() |
| Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin memberikan sambutan dalam acara Silaturahmi Ketua Baznas RI bersama Tokoh Agama dan Masyarakat di Pendopo |
SELAPARANGNEWS.COM - Kehadiran Ketua BAZNAS RI di Pendopo Bupati Lombok Timur pada Kamis (23/04/2026) menjadi momen nostalgia sekaligus diplomasi strategis bagi Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin. Di hadapan tokoh agama dan masyarakat, Bupati membeberkan sejarah panjang dan berliku pengelolaan zakat di Bumi Patuh Karya.
Bupati yang akrab disapa H. Iron tersebut mengungkapkan bahwa keberadaan BAZNAS di Lombok Timur, yang dulunya bernama BAZDA, tidaklah berdiri di atas karpet merah. Ada perjuangan fisik dan mental yang besar di balik kokohnya lembaga zakat tersebut saat ini.
Haji Iron menceritakan, cikal bakal lembaga ini dimulai melalui Perda Nomor 9 Tahun 2002 di masa akhir jabatan Bupati H. Syahdan. Namun, gejolak hebat terjadi saat masa kepemimpinan Bupati H. Ali Bin Dahlan (2003-2008).
Kala itu, kebijakan pemotongan gaji ASN untuk zakat mendapatkan perlawanan keras dari berbagai pihak.
"Waktu itu sangat berat. Orang keberatan gajinya dipotong untuk zakat. Bahkan terjadi demo besar-besaran, ada aksi bakar mobil hingga pendudukan kantor Bupati. Tapi berkat keteguhan Bapak Ali Bin Dahlan, BAZDA tetap dipertahankan hingga bisa berdiri tegak sampai hari ini," kenang Bupati Iron.
Perjuangan tersebut berlanjut pada periode 2013-2018 saat Haji Iron menjabat sebagai Wakil Bupati mendampingi Ali BD. Komitmen keduanya semakin gencar untuk membangkitkan marwah zakat sebagai instrumen pengentas kemiskinan.
Salah satu bukti nyata dari "darah dan keringat" perjuangan zakat tersebut adalah berdirinya gedung rumah sakit yang kini berada di wilayah Labuhan Haji. Gedung senilai lebih dari Rp. 30 miliar tersebut murni dibangun menggunakan dana zakat masyarakat.
"Itu adalah bangunan milik umat. Pembangunannya dari zakat, sementara alat kesehatannya (alkes) didukung oleh APBD. Ini adalah bukti bahwa zakat jika dikelola dengan serius bisa memberikan manfaat yang sangat konkret," tegasnya.
Melihat potensi besar dan program BAZNAS RI dalam membangun fasilitas kesehatan di berbagai daerah, Bupati Iron melemparkan usulan strategis kepada Ketua BAZNAS RI. Ia ingin rumah sakit yang dibangun dari dana zakat tersebut bertransformasi menjadi Rumah Sehat BAZNAS.
"Saya berpikir, Lombok Timur ini sebenarnya sudah ada 'Rumah Sehat BAZNAS', tinggal merubah nama saja karena memang historis bangunannya berasal dari zakat. Kami sedang komunikasikan terkait alkes yang bersumber dari APBD agar ada penggantian atau kerja sama teknis, sehingga rumah sakit tersebut bisa menjadi pusat kesehatan duafa di bawah naungan BAZNAS," pungkasnya.
Kunjungan Ketua BAZNAS RI ini diharapkan menjadi angin segar bagi optimalisasi pendayagunaan zakat di Lombok Timur, sekaligus mewujudkan fasilitas kesehatan yang inklusif bagi masyarakat kurang mampu.
![]() |
| Ketua Baznas RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid |
Ketua BAZNAS RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Ia memaparkan data menarik mengenai faktor yang paling mempengaruhi peningkatan perolehan zakat di sebuah daerah.
"Berdasarkan survei kami, peningkatan kampanye hanya menaikkan perolehan zakat sebesar 4 persen, dan pelaksanaan berbagai event hanya berkontribusi 11 persen. Namun, keberpihakan pemerintah daerah kepada BAZNAS memiliki pengaruh yang sangat signifikan, yakni mencapai 70 persen," ungkapnya.
Menurutnya, Lombok Timur sangat beruntung memiliki sosok pemimpin seperti Bupati Haerul Warisin yang konsistensinya terhadap pengelolaan zakat sudah teruji sejak menjabat sebagai wakil bupati, bahkan di tengah berbagai tantangan besar di masa lalu.
Sodik menekankan bahwa jika pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) berjalan maksimal melalui kolaborasi yang baik, maka ketergantungan daerah terhadap APBD bisa diminimalisir. Ia memimpikan suatu saat daerah-daerah di Indonesia, termasuk Lombok Timur, bisa membiayai program kesejahteraan umatnya secara mandiri melalui zakat.
"Kita harus terus memperbaiki manajemen internal BAZNAS dan memperkuat kerja sama eksternal. Jika zakat sudah berjalan dengan bagus melalui manajemen yang luar biasa, maka beban APBD tidak perlu besar lagi karena umat Islam sudah bisa membiayai kebutuhannya sendiri," jelasnya.
Ia juga memuji keselarasan visi antara Bupati Haerul Warisin dengan Gubernur NTB, yang dinilainya sama-sama memiliki komitmen luar biasa terhadap penguatan ekonomi syariah.
"Kolaborasi dan mobilisasi zakat ini adalah jalan kita menuju cita-cita Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur, Dengan menjalankan kewajiban kepada delapan asnaf, terutama fakir miskin, kita sedang membangun masa depan yang lebih baik untuk anak cucu kita," pungkasnya. (Yns)

