Notification

×

Iklan

Iklan

Adaptasi Seni dan Industri Pariwisata di Era Artificial Intelligence: Strategi Mempertahankan Kreativitas, Pengalaman Wisata, dan Nilai Budaya

Sabtu, 30 Mei 2026 | Mei 30, 2026 WIB Last Updated 2026-05-30T07:01:14Z


Penulis: Qori Bayyinaturrosyi, M.Sc. | Akademisi NTB


OPINI - Artificial Intelligence (AI) telah berkembang menjadi salah satu teknologi paling berpengaruh dalam abad ke-21, telah mengubah lanskap seni dan industri pariwisata secara signifikan. Kemunculan sistem generatif seperti Midjourney, DALL-E, Stable Diffusion, dan berbagai model kreatif lainnya telah mengubah cara karya seni diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi. Menurut Epstein et al. (2023), AI generatif merupakan medium baru yang berpotensi mengubah proses kreatif sebagaimana fotografi dan teknologi digital mengubah seni pada masa sebelumnya. Sementara itu, Oksanen et al. (2023) menunjukkan bahwa AI telah memasuki berbagai cabang seni, mulai dari seni rupa, musik, sastra, hingga pertunjukan. Dalam konteks pariwisata, transformasi ini memiliki implikasi besar karena seni merupakan salah satu komponen utama daya tarik destinasi wisata.

Industri pariwisata modern tidak lagi hanya menjual destinasi fisik, tetapi juga pengalaman. Seni berperan penting dalam membentuk identitas destinasi melalui festival budaya, pertunjukan, galeri, museum, seni pertunjukan, dan produk kreatif lokal. Tubadji, Huang, dan Webber (2021) menemukan bahwa masyarakat tetap memberikan apresiasi lebih tinggi terhadap karya yang diketahui dibuat manusia dibandingkan karya AI. Temuan ini penting bagi pariwisata karena wisatawan tidak hanya mencari hasil akhir suatu karya, tetapi juga cerita, pengalaman, dan autentisitas budaya yang melatarbelakanginya.

AI membuka peluang besar dalam pengembangan pariwisata kreatif. Gong (2021) menjelaskan bahwa integrasi AI dan virtual reality dapat meningkatkan pengalaman pembelajaran seni dan media digital. Dalam sektor pariwisata, teknologi ini dapat digunakan untuk menciptakan museum virtual, tur budaya interaktif, rekonstruksi situs sejarah, dan pengalaman imersif berbasis realitas virtual. Selain itu, Li et al. (2024) menunjukkan bahwa AI mampu meningkatkan efisiensi desain visual dan personalisasi konten. Dalam promosi destinasi wisata, kemampuan ini dapat digunakan untuk menghasilkan materi promosi yang lebih menarik dan sesuai dengan preferensi wisatawan.

Meskipun menawarkan berbagai manfaat, AI juga menghadirkan tantangan serius. Jiang et al. (2023) mengingatkan bahwa banyak seniman mengalami kerugian akibat penggunaan karya mereka sebagai data pelatihan AI tanpa izin. Dalam industri pariwisata, kondisi ini dapat mengancam keberlanjutan ekonomi pelaku seni lokal apabila karya budaya mereka digunakan tanpa perlindungan yang memadai. Piskopani et al. (2023) juga menyoroti pentingnya Responsible AI untuk memastikan transparansi, keadilan, dan perlindungan hak kreator.

Oleh sebab itu diperlukan beberapa strategi adaptadi seni dan pariwisata di era AI. Pertama, menjadikan AI sebagai alat kolaborasi kreatif. Seniman dan pelaku pariwisata perlu memanfaatkan AI untuk memperluas kreativitas tanpa menghilangkan peran manusia. Kedua, memperkuat autentisitas budaya lokal. Nilai budaya, sejarah, dan identitas komunitas harus tetap menjadi inti pengalaman wisata. Ketiga, meningkatkan literasi digital dan teknologi bagi seniman, kurator, pengelola destinasi, dan pelaku UMKM kreatif. Keempat, membangun regulasi mengenai hak cipta, kepemilikan data, dan penggunaan karya budaya dalam pelatihan AI. Kelima, mengembangkan destinasi wisata berbasis ekonomi kreatif dan ekonomi sirkular sebagaimana direkomendasikan oleh Núñez-Cacho et al. (2024).

Perkembangan AI tidak harus dipahami sebagai ancaman terhadap seni dan pariwisata. Sejarah menunjukkan bahwa teknologi baru sering kali menciptakan bentuk ekspresi baru tanpa menghilangkan praktik lama. Epstein et al. (2023) berargumen bahwa AI bukan akhir dari seni, melainkan medium baru. Dalam pariwisata, AI dapat meningkatkan kualitas interpretasi budaya, aksesibilitas informasi, dan pengalaman wisata yang lebih personal. Namun demikian, nilai kemanusiaan tetap menjadi pembeda utama yang tidak dapat digantikan oleh algoritma.

Adaptasi seni dan industri pariwisata di era Artificial Intelligence memerlukan pendekatan yang seimbang antara inovasi teknologi dan pelestarian nilai budaya. AI dapat menjadi alat yang memperkuat daya saing destinasi wisata melalui pengalaman yang lebih interaktif, personal, dan kreatif. Namun keberhasilan adaptasi sangat bergantung pada kemampuan pelaku seni dan pariwisata untuk mempertahankan autentisitas budaya, memperkuat kompetensi digital, serta menerapkan prinsip etika dan keberlanjutan dalam pemanfaatan teknologi.


Refrensi

Cetinic, E., & She, J. (2022). Understanding and Creating Art with AI: Review and Outlook.
Epstein, Z., Hertzmann, A., Herman, L., Mahari, R., Frank, M. R., Groh, M., et al. (2023). Art and the Science of Generative AI: A Deeper Dive.
Gong, Y. (2021). Application of virtual reality teaching method and artificial intelligence technology in digital media art creation. Ecological Informatics, 63, 101304.
Jiang, H., Brown, L., Cheng, J., Khan, M., Gupta, A., Workman, D., Hanna, A., Flowers, J., & Gebru, T. (2023). AI Art and its Impact on Artists. Proceedings of the AAAI/ACM Conference on AI, Ethics, and Society.
Núñez-Cacho, P., Mylonas, G., Kalogeras, A., & Molina-Moreno, V. (2024). Exploring the transformative power of AI in art through a circular economy lens: A systematic literature review. Heliyon, 10(2), e25388.
Oksanen, A., Cvetkovic, A., Akin, N., Latikka, R., Bergdahl, J., Chen, Y., & Savela, N. (2023). Artificial intelligence in fine arts: A systematic review of empirical research. Computers in Human Behavior: Artificial Humans, 1, 100004.
Papia, E.-M., Kondi, A., & Constantoudis, V. (2023). Entropy and complexity analysis of AI-generated and human-made paintings. Chaos, Solitons & Fractals, 170, 113385.
Piskopani, A.-M., Chamberlain, A., & Ten-Holter, C. (2023). Responsible AI and the Arts: The Ethical and Legal Implications of AI in the Arts and Creative Industries. Proceedings of the International Symposium on Trustworthy Autonomous Systems.
Roose, K. (2022). An A.I.-Generated Picture Won an Art Prize. Artists Aren’t Happy. The New York Times.
×
Berita Terbaru Update