![]() |
| Antrean panjang pengendara mobil di salah satu SPBU di Kabupaten Lombok Timur |
SELAPARANGNEWS.COM - Antrean panjang kendaraan kembali terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Lombok Timur. Kondisi ini dikeluhkan masyarakat karena mengganggu aktivitas sehari-hari dan memaksa sebagian warga membeli BBM eceran dengan harga jauh lebih mahal.
Ketua Forum Rakyat Bersatu (FRB) NTB, Eko Rahady, mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) bersama Pertamina segera turun tangan untuk memastikan distribusi BBM bersubsidi berjalan sesuai aturan dan tidak merugikan masyarakat.
Eko mengaku telah memantau langsung kondisi di berbagai SPBU di Lombok Timur selama tiga hari terakhir. Menurutnya, antrean panjang terlihat hampir di seluruh wilayah, mulai dari Lenek, Masbagik, Pringgasela, Sakra Barat, Moyot hingga Sikur.
"Sudah tiga hari saya keliling Lombok Timur. Hampir semua SPBU yang saya datangi dipenuhi antrean panjang. Ini sangat menyulitkan masyarakat," ujarnya di Selong. Senin, (3/8).
Ia mempertanyakan penyebab antrean BBM yang terus berulang. Menurutnya, masyarakat membeli BBM secara tunai sehingga seharusnya tidak mengalami kesulitan memperoleh bahan bakar.
Akibat kondisi tersebut, sebagian warga terpaksa membeli BBM eceran dengan harga mencapai Rp20 ribu per liter agar tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari.
Eko meminta APH bersama Pertamina meningkatkan pengawasan terhadap mekanisme distribusi BBM di SPBU. Ia berharap pengisian BBM lebih diprioritaskan kepada kendaraan masyarakat dibandingkan pengisian menggunakan jeriken, terutama pada jam-jam sibuk.
Ia juga mengaku sempat mengalami kejadian saat mengantre di salah satu SPBU di wilayah Moyot. Menurutnya, stok Pertalite dinyatakan habis ketika gilirannya tiba, padahal sekitar satu jam sebelumnya truk tangki baru saja melakukan pengisian.
Atas kondisi tersebut, Eko meminta Pertamina Ampenan memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait penyebab antrean dan dugaan kelangkaan BBM di Lombok Timur. Ia juga mendesak APH memperketat pengawasan distribusi BBM bersubsidi agar tidak terjadi penyimpangan yang berpotensi merugikan masyarakat.
Lebih lanjut, Eko turut menyampaikan adanya dugaan praktik distribusi yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Namun demikian, dugaan tersebut belum disertai bukti sehingga memerlukan klarifikasi dari pihak Pertamina maupun aparat berwenang.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean panjang terlihat di sejumlah SPBU. Di SPBU Sordang, Kecamatan Lenek, antrean kendaraan roda empat mengular hingga ke badan jalan sambil menunggu pasokan BBM datang.
Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Kelurahan Sekarteja, Kecamatan Selong. Kendaraan berjejer panjang di pinggir jalan untuk mendapatkan giliran mengisi BBM.
Salah seorang pengendara, Multazam, mengaku telah mengantre selama dua jam lebih.
"Sudah dua jam saya nunggu ini, tadi saya di ujung jembatan, ya kurang lebih satu kilometer dari SPBU," katanya saat ditemui.
Ia mengaku telah mencari BBM di sejumlah SPBU, mulai dari Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya hingga perbatasan Lombok Timur di Kecamatan Terara. Namun, di setiap SPBU yang didatanginya ia menemukan antrean panjang maupun stok BBM yang kosong.
"Saya sudah mencari dari SPBU Labuhan Lombok hingga perbatasan Lombok Timur di Kecamatan Terara, tapi sama saja yang saya temukan," tuturnya.
Multazam mengatakan kendaraan yang digunakannya merupakan sumber penghasilan utama keluarga sehingga kebutuhan BBM menjadi sangat penting.
"Saya kan harus keluar setiap hari cari anak-anak yang naik odong-odong saya ini. Hanya ini yang membantu keluarga saya," ujarnya didampingi istri dan anaknya.
Keluhan serupa disampaikan Ismail, seorang sopir yang mengaku telah menunggu lebih dari dua jam untuk mendapatkan BBM.
"Sudah dua jam lebih saya nunggu ini," katanya singkat. (Yns).
