Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masa Pandemi Covid-19

Jumat, 20 November 2020 | November 20, 2020 WIB Last Updated 2020-11-19T17:48:18Z

Oleh: Topan Ali Hidayat*

Opini - Pandemi Covid-19 merupakan virus berbahaya yang menular dengan cepat melalui kontak langsung seperti jabat tangan atau bersalaman, selain itu juga dapat menular secara tidak langsung melalui perputaran uang yang sangat cepat. Virus corona pertakali muncul di Wuhan Tiongkok China pada akhir Desember 2019.

Pandemi Covid-19 pertama kali masuk ke Indonesia sejak awal Januari 2020 sebagaimana sudah yang diungkapkan  oleh Pandu Riono selaku pakar epidemologi Universitas Indonesia (UI) dalam diskusi daring bertajuk "mobilitas penduduk dan covid-19: implikasi sosial ekonomi dan politik" pada senin 4 Maret 2020. Kasus Covid-19 di Indonesia  per tanggal 19 November 2020 berjumlah 478.720 positif, sembuh sebanyak 402.347 jiwa, dan meninggal dunia sebanyak 15.503 jiwa.

Maka dari itu berbagai upaya telah dilakukan pemerintah guna menekan lonjakan kasus Covid-19, diantaranya dengan menghimbau agar masyarakat menghindari kerumunan, menggunakan masker ketika hendak keluar rumah, mencuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer sesudah melakukan aktivitas di luar rumah atapun memegang benda seperti uang dan benda lainnya yang ada dilingkungan sekitar.

Perayaan maulid merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW. Namun sejak pandemi Covid-19 ini menyebar ke Indonesia dan bahkan dunia, membuat sendi-sendi kehidupan manusia seperti terhadap sosial, politik, ekonomi, dan kebiasaan masyarakat menjadi berubah. Seperti kebiasaan masyarakat memperingkati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam perayaan maulid Nabi selalu dilakukan di setiap tahunnya pada tanggal 12 Rabiul Awal dengan antusias dan meriah. Contohnya masyarakat muslim di pancor Muhajirin Lombok Timur pada umumnya merayakan Maulid Nabi dengan membaca shalawat nabi bersama dan melakukan pengajian yang di akhiri dengan acara makan bersama, makanan ini diperoleh dari setiap rumah di kampung Muhajirin yang diharuskan untuk menyediakan makan menggunakan dulang atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan baki.

Dalam perayaan maulid ini biasanya mengundang tokoh agama dari kampung-kampung  sebelah. Selain itu juga terdapat lomba-lomba seperti lomba adzan, pidato agama, fashion show yang mengenakan baju muslim, menghafal surat pendek Al-Qur'an untuk anak SD dan lain-lain sebagainya. Namun pada saat Pandemi Covid-19, masyarakat Muhajirin merayakan maulid dengan sederhana tidak semeriah yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Perayaan Maulid Nabi pada tahun 2020 ini hanya dihadiri oleh masyarakat yang ada di kampung Muhajirin dengan mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh pemerintah seperti menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer dan suhu tubuh diukur menggunkan alat termometer atau biasa di sebun dengan thermogun.

Mata lomba yang diselenggarakan juga lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya hal ini dikarenakan orang yang mengikuti lomba tidak sebanyak tahun sebelumnya, orang-orang lebih lebih memilih berdiam dirumah untuk menghindari kerumunan di bandingkan mengikuti lomba yang sudah di siapkan oleh panitia perayaan Maulid. Selain itu juga terdapa faktor lain seperti  masyarakat sudah terbiasa dengan aktifitas yang di lakukan  didalam rumah bersama keluarga masing-masing

 Perayaan Maulid di Desa Masbagik kecamatan Masbagik sebagaimana yang di ungkapkan oleh Putra Alif Jaya kusuma selaku warga kampung disana bahwa dalam perayaan Maulidnya hanya melakukan lomba melukis di tembok rumah betemakan covid-19 sebagai pengganti perayaan Maulid Nabi yang biasanya di lakukan secara meriah ditahun sebelumnya.

Dari uraian di atas sudah menunjukkan bahwa Covid-19 telah merubah kebiasaan masyarakat di dalam penyelenggaraan atau perayaan Maulid Nabi. Secara sosiologis perubahan ini merupakan perubahan sosial. Dalam buku Perubahan Sosial (2018) karya Joan Hesti Gita Purwangsih dan Sri Muhammad Kusumantoro, perubahan sosial merupakan suatu variasi cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan, komposisi penduduk, ideology maupun adanya penemuan baru dalam masyarakat.

Dalam buku Pengantar Ringkas Sosiologi (2020) karya Elly M. Setiadi bahwa teori siklus menggambarkan perubahan sosial bagaikan roda yang sedang berputar. Maksudnya adalah perputaran zaman merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakan oleh siapapun dan tidak dapat dikendalikan oleh siapapun

Semoga kedepannya Covid-19 cepat menghilang agar tidak kehidupan masyarakat dapat berjalan normal kembali. Mari  taati protokol kesehatan yang telah dibuat oleh pemerintah agar penyebaran  Covid-19 dapat berkurang dan tidak menyebar lebih luas lagi. Karena kita sebagai masyarakat berperan penting dalam pencegahan penularan maupun penyebaran virus Covid-19 di NTB maupun Indonesia.

Referensi

www.alodokter.com

www.compas.com

www.merdeka.com

corona.ntbprov.go.id


*Mahasiswa Sosiologi Universitas Mataram

×
Berita Terbaru Update