Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

PERGUNU Lotim Gelar Refleksi Hari Guru Nasional di Ponpes Al-khair Ambung

Jumat, 27 November 2020 | November 27, 2020 WIB Last Updated 2021-04-01T14:56:19Z

Foto: kegiatan PERGUNU Lotim dalam rangka memeriahkan Hari Guru Nasional di Ponpes Al-khair Ambung, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur

Lombok Timur, Selaparangnews.com - Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional Tahun 2020, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kabupaten Lombok Timur menggelar tasyakuran sekaligus sebagai moment untuk merefleksikan peran dan fungsi guru dalam menjalani roda kehidupan. 

Perayaan yang digelar di Yayasan Pondok Pesantren Al-khair Ambung, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur itu mengusung tema yang cukup menarik yakni "Guru Mulia Teladan Bangsa". Karena itulah, pada moment tersebut, semua Guru yang ada di Lotim, terutama yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan mampu membangkitkan semangat belajar peserta didik dalam segala kondisi dan situasi.

Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Lombok Timur, Saifuddin Zuhri, M.Pd. Menurutnya, salah satu hal pokok yang harus dilakukan oleh guru, khususnya para Guru yang ada di Lotim ialah mencerdaskan kehidupan bangsa, baik dalam situasi dan kondisi apapun. Termasuk pada situasi pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih mewabah.

"Tujuan guru itu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh Bangsa Indonesia. Oleh sebab itulah, giroh guru setiap hari harus diupdate untuk tetap menghidupkan warna bagi dunia pendidikan," tuturnya. Jum'at, 27/11/2020.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Ketua PCNU Lombok Timur, TGH. Marwan Hakim Arsyad, Syuriah PCNU Lotim TGH. Hilmi Abdul Halim, Pendiri Ponpes Al-khair TGH. Madlul Khair, Ketua Ikatan Sarjana NU Lotim Asri Mardianto, Ketua Lembaga Amil Zakat NU Lotim Raden Bambang Dwi Minardi, pengurus PCNU Lotim Ahdar Arya Sutha, Bendahara Ikatan Pelajar NU NTB Ikhwanul Muslim, serta jajaran pengurus Yayasan Ponpes Al-khair bersama puluhan santri.

Menurut Saifuddin, peran penting guru sampai dengan saat ini menjadi pusaran yang mendasar bagi orang-orang yang sukses. Hal itu bisa dilihat sampai dengan saat ini, posisi guru masih menjadi prioritas ketika di dunia pendidikan.

Pada dasarnya, kata Saifuddin bahwa guru saat ini harus bersyukur karena masih dapat memberikan konstibusi yang positif bagi peserta didik. Mengingat, saat ini banyak guru yang masih ingin tetap mengajar akan tetapi kondisi yang tidak memadai seperti contohnya ada guru yang sakit, guru yang pensiun dan kendala lainnya.

"Kita yang hari ini menjadi guru harus bersyukur, karena masih dapat memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita agar menjadi generasi yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara," ujarnya.

Ia menambahkan, untuk membangun generasi pendidikan yang berkulitas di masa yang akan datang, tentunya peran guru saat ini sangat dibutuhkan untuk mendongkrak kualitas angkatan pendidikan. 

Hal itu menjadi krusial, sambungnya, tak kala para guru bisa memberikan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Sehingga, produk dari peserta didik yang dihasilkan bisa bermanfaat bagi orang banyak

Dirinya tak mengelakkan, ketika peserta didik telah menempuh jalan kesuksesan. Maka itu menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi guru, sebab seorang guru yang telah menyumbangkan energi positif bagi murid-muridnya akan merasa bahagia ketika murdinya meniti jalan kesuksesan.

"Ketika murid-murid itu sukses, maka guru yang terdepan paling berbahagia melihat hal tersebut," imbuhnya.

Menjelaskan keadaan guru pada saat ini, Ketua PCNU Lotim Marwan Hakim Arsyad mengatakan ada dua jenis guru yang kemukakan oleh Rasullah SAW, yakni guru yang tidak bicara dan guru yang berbicara.

Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan guru tidak bicara itu ialah, sistem pembelajaran yang didasari oleh suatu pengalaman. Seperti contohnya beberapa tahun yang lalu ketika Pulau Lombok di guncang bencana gempa.

"Dari situ kemudian banyak orang-orang yang melaksanakan ibadah dengan lebih giat, itulah yang dinamakan guru tak bisa bicara," ulas Ketua PCNU Lotim.

Kemudian yang kedua dinamakan dengan guru berbicara, ia menjelaskan yakni guru-guru yang terlihat saat ini mengajarkan ilmunya kepada peserta didik. Guru yang dapat bicara ini menurutnya menjadi garda terdepan yang bertanggungjawab terhadap degradasi moral yang dilakukan oleh sebagian murid saat ini.

Namun kenyataannya di lapangan berbeda, justru kata Marwan ada sebagian murid yang moralnya tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh gurunya. Salah satu contohnya ia menyebut ketika seorang murid berani memukul gurunya sendiri.

"Tindakan guru merupakan cerminan dari apa yang akan diperbuat oleh muridnya, untuk itulah mari bersama-sama memperbaiki sistem pendidikan saat ini dengan mengedepankan akhlakul karimah," pintanya.

Situasi perkembangan teknologi saat ini juga menurutnya tidak selalu berjalan ke arah yang positif. Terkadang juga bisa negatif, salah satunya sanad keilmuan dari peserta didik saat ini dipertanyakan. Sebab, banyak yang belajar hanya melalui internet.

"Guru itu ilmunya harus mutawattir atau ditransfer kepada murid-muridnya, kami melihat banyak murid sekarang yang mencari pengetahuan melalui teknologi bukan melalui ajaran guru," jelasnya. (fgr)

×
Berita Terbaru Update