![]() |
HMPS Pariwisata Universitas Hamzanwadi mengikuti ritual adat di Desa Sajang, Sembalun, Kabupaten Lombok Timur |
SELAPARANGNEWS.COM - Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, dikenal dengan panorama alam yang memesona dan kekayaan budaya yang unik. Letaknya yang strategis di jalur pendakian Gunung Rinjani menjadikan desa ini memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata unggulan. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap optimal, baik dari sisi promosi, manajemen destinasi, maupun pengembangan sumber daya manusia.
Melihat kondisi ini, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pariwisata Universitas Hamzanwadi melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Sajang. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.
Pada tahap awal, mahasiswa melakukan pemetaan jalur wisata (Mapping) dan pemasangan papan entrepreneur di dua destinasi utama Desa Sajang, yaitu Bukit Pemedengan dan Air Terjun Mangku Sakti.
“Aksesibilitas dalam pariwisata itu sangat penting. Papan informasi penunjuk arah ini kami pasang agar wisatawan mudah menuju lokasi. Selama ini banyak pengunjung yang tidak tahu jalannya, bahkan mengira keindahan Sembalun hanya ada di Bukit dan Gunung Rinjani saja,” ungkap Yusron Hadi, Ketua HMPS Pariwisata Universitas Hamzanwadi kepada Selaparangnews.com. Kamis, (28/08/2025).
Langkah ini bertujuan agar pengunjung mendapatkan pengalaman yang nyaman sekaligus membantu masyarakat dalam mengembangkan destinasi wisata berbasis informasi yang jelas.
Kegiatan PKM bertepatan dengan peringatan HUT RI ke-80, sehingga mahasiswa ikut berpartisipasi dalam memeriahkan suasana kemerdekaan bersama masyarakat. Mereka terlibat dalam pemasangan bendera, dekorasi lingkungan, hingga persiapan perayaan 17 Agustus.
Tak hanya itu, mahasiswa juga ikut serta dalam Ritual Adat Wiwitan, tradisi masyarakat Sasak untuk menyambut pergantian musim. Ritual ini meliputi rangkaian acara seperti Sembeq dan Ngandang, yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Desa Sajang.
Sebagai bentuk inovasi, HMPS Pariwisata juga memproduksi film dokumenter tentang potensi Desa Sajang, meliputi sejarah, wisata budaya, agrowisata, dan ekosistem alam. Proses ini melibatkan kolaborasi mahasiswa dan warga dalam pengumpulan data, pengambilan gambar, serta penyusunan narasi.
Selain itu, mahasiswa turut membangun gapura di Bale Lokaq secara gotong royong bersama masyarakat. Gapura ini bukan hanya penanda fisik, tetapi juga simbol kebersamaan dan persatuan antara mahasiswa dan warga.
Momen paling berkesan adalah keterlibatan mahasiswa dalam Ritual Adat Ngasuh Gunung Rinjani, tradisi sakral masyarakat Sasak untuk memohon keselamatan dan menjaga kelestarian alam Gunung Rinjani. Ritual ini digelar pada Senin, 4 Agustus 2025, di Bale Lokaq Desa Sajang.
“Pengabdian ini menjadi pengalaman berharga bagi kami. Meski penuh kekurangan, kami bangga bisa mengimplementasikan ilmu yang kami dapatkan di kampus untuk masyarakat. Justru ini menjadi motivasi untuk belajar lebih giat lagi,” tutupnya.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperkuat wawasan akademis, tetapi juga membangun jejaring sosial dan budaya. Harapannya, Desa Sajang semakin dikenal sebagai destinasi wisata unggulan Lombok Timur dengan pengelolaan yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat. (SN)