![]() |
| Bahtsul Masa'il Pra Haul TGH. Shaleh Hambali di Ponpes Darul Qur'an Bengkel, Lombok Barat dihadiri ratusan peserta dari puluhan Pondok Pesantren di Pulau Lombok |
SELAPARANGNEWS.COM - Fenomena Maling Nine, praktik adat pisuke dalam pernikahan, serta tingginya angka pernikahan dini di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi fokus utama pembahasan dalam Bahtsul Masail ke-4 Pra Haul ke-57 Almaghfurullah Al-Mukarram TGH. Muhammad Shaleh Hambali.
Forum ilmiah ini digelar oleh Lembaga Bahtsul Masail PWNU NTB bersama Lakpesdam PWNU NTB, Forum Bahtsul Masail Pesantren se-Pulau Lombok, serta Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Kamis (12/02/2026), bertempat di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Lombok Barat.
Ketua LBM PWNU NTB, TGH. Nuzulul Umam Mawardi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Bahtsul Masail merupakan ruang ijtihad kolektif para ulama untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, khususnya di NTB.
Ia menegaskan bahwa jawaban atas persoalan yang dibahas diharapkan benar-benar shahih dan sharih, serta memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan umat.
“Yang paling penting, hasil dari jawaban ini nantinya betul-betul bermanfaat untuk umat dan masyarakat, wabil khusus masyarakat NTB,” ujarnya.
Menurutnya, isu Maling Nine telah menimbulkan keresahan sosial dan berpotensi memicu tindakan main hakim sendiri jika tidak diberi panduan hukum yang jelas.
Sementara itu, praktik adat pisuke dalam pernikahan serta maraknya pernikahan dini dinilai perlu dikaji secara mendalam agar tidak bertentangan dengan prinsip keadilan, kemaslahatan, dan perlindungan terhadap perempuan serta anak.
“Forum Bahtsul Masail ini diharapkan mampu memberikan jawaban hukum yang memang dibutuhkan oleh masyarakat NTB pada umumnya,” kata Nuzulul Umam.
Ia juga menegaskan komitmen kepengurusan LBM PWNU NTB periode 2025–2030 untuk terus menghidupkan tradisi Bahtsul Masail sebagai rujukan keagamaan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang. Dalam waktu dekat, LBM PWNU NTB juga berencana menggelar Bahtsul Masail lanjutan di Pulau Sumbawa.
“Insyaallah ke depannya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, di Pulau Sumbawa juga akan diadakan Bahtsul Masail lanjutan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, TGH. Halisussabry, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran para tuan guru dan peserta dari berbagai pesantren di Pulau Lombok dalam rangka Pra Haul ke-57 TGH. Muhammad Shaleh Hambali.
“Alhamdulillah kita dapat berkumpul dalam rangka menyambut Pra Haul Almaghfurullah TGH. Muhammad Shaleh Hambali yang ke-57. Semoga apa yang kita laksanakan menjadi amal ibadah di hadapan Allah SWT,” ujarnya.
Wakil Ketua PWNU NTB, Prof. H. Jumarim, menegaskan bahwa Bahtsul Masail merupakan tradisi keilmuan khas Nahdlatul Ulama yang mengedepankan kehati-hatian, sanad keilmuan, serta musyawarah kolektif dalam merumuskan hukum.
Menurutnya, di tengah kompleksitas persoalan sosial masyarakat, Bahtsul Masail menjadi instrumen penting agar umat memperoleh rujukan hukum Islam yang moderat, mendalam, dan kontekstual. (SN)

