Penulis: Abdurrasyid | Kader Penggerak NU Kecamatan Lembar - Lombok Barat
Dalam dunia seni baca Al Quran di Lombok Barat, nama Tuan Guru Haji Muhammad Nuril Anwar Ma’sum dikenal luas. Ia bukan sekadar guru tilawah, melainkan sosok yang dengan ketekunan dan keikhlasan membumikan Al Quran hingga ke pelosok desa. Dari Gerung, Lembar, hingga Sekotong, jejak pengabdiannya masih terasa melalui ratusan murid, qori dan qoriah, serta berdirinya Pondok Pesantren Al Quran Nurul Hidayah di Desa Labuan Tereng.
Dalam dunia seni baca Al Quran di Lombok Barat, nama Tuan Guru Haji Muhammad Nuril Anwar Ma’sum dikenal luas. Ia bukan sekadar guru tilawah, melainkan sosok yang dengan ketekunan dan keikhlasan membumikan Al Quran hingga ke pelosok desa. Dari Gerung, Lembar, hingga Sekotong, jejak pengabdiannya masih terasa melalui ratusan murid, qori dan qoriah, serta berdirinya Pondok Pesantren Al Quran Nurul Hidayah di Desa Labuan Tereng.
Keterbatasan fisik tak pernah menjadi penghalang bagi Tuan Guru Nuril Anwar untuk mengajarkan Al Quran. Dengan semangat yang nyaris tak pernah surut, ia menjadikan kegemaran membaca Al Quran sebagai jalan hidup, sekaligus ladang pengabdian kepada umat.
Tuan Guru Nuril Anwar lahir di Dusun Tibu Lilin pada 21 Januari 1938. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian berhijrah ke Dusun Lekok, Lendang Andus Barat, Desa Labuan Tereng, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Di tempat inilah ia merintis dan membangun Pondok Pesantren Al Quran yang kelak menjadi pusat pembelajaran tilawah dan tahfiz bagi masyarakat sekitar.
Penamaan Pondok Pesantren Al Quran Nurul Hidayah bukanlah pilihan sembarangan. Nama tersebut mencerminkan kecintaan mendalam Tuan Guru Nuril Anwar terhadap Al Quran, sekaligus menjadi penanda kesinambungan sanad keilmuan yang ia terima dari para gurunya. Ia tercatat pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Darul Quran Bengkel, asuhan TGH. Muhammad Shaleh Hambali, pendiri Nahdlatul Ulama di Nusa Tenggara Barat, serta di Pondok Pesantren NU Hidayatuddarain Dasan Geres, Gerung, yang diasuh TGH Ahmad Asy’ari.
Dua pesantren inilah yang membentuk kedalaman keilmuannya sekaligus memengaruhi corak dakwah yang ia kembangkan di tengah masyarakat. Riwayat pendidikannya juga meneguhkan sikapnya untuk tetap berkhidmat di Nahdlatul Ulama. Meski pernah mendapat tawaran untuk berpindah ke organisasi lain dengan janji dukungan pengembangan pesantren, ia menolak dengan tegas.
“Saya tidak ingin mengecewakan guru saya, Datok Bengkel,” ucapnya suatu ketika.
Pengabdian Tuan Guru Nuril Anwar dalam mengajarkan Al Quran dimulai jauh sebelum pesantren berdiri. Pada dekade 1970-an, ketika akses jalan ke wilayah pelosok Lombok Barat masih sulit dan sebagian besar belum beraspal, ia berjalan kaki menembus pegunungan Lembar dan Sekotong. Dari satu dusun ke dusun lain, ia mengajarkan cara melantunkan ayat-ayat suci Al Quran tanpa pernah mengharap imbalan materi.
Tujuannya sederhana namun mulia, memastikan lantunan Al Quran tetap hidup dan menggema di tanah Sasak. Konsistensi itulah yang kemudian menarik minat masyarakat untuk belajar tilawah kepadanya. Seiring waktu, sekitar awal 2000-an, gagasan mendirikan Pondok Pesantren Al Quran pun terwujud.
Melalui pesantren tersebut, Tuan Guru Nuril Anwar melahirkan banyak penghafal Al Quran, qori, dan qoriah. Sejumlah muridnya mencatat prestasi di berbagai ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dan Seleksi Tilawatil Quran (STQ), mulai dari tingkat desa hingga nasional.
Di tengah aktivitasnya sebagai Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Lembar dan pengisi pengajian di berbagai majelis taklim, ia tetap setia mendampingi para santri. Ia juga kerap menjadi dewan hakim dalam perhelatan STQ dan MTQ, peran yang dijalaninya dengan penuh tanggung jawab.
Tuan Guru Nuril Anwar wafat pada 23 Desember 2022. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan yang tak ternilai. Pondok Pesantren Al Quran Nurul Hidayah berdiri sebagai saksi ketulusan dan keteguhannya dalam berjuang.
Ia telah pergi, tetapi suaranya terus hidup dalam lantunan ayat-ayat suci yang dibaca para santri dan murid-muridnya. Dari sanalah, Tuan Guru Nuril Anwar dikenang sebagai maestro tilawah, sosok yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk Al Quran dan umat. [ ]

