Penulis: Raden Nune Syahroni | Ketua Umum Pemuda Sasak Indonesia
OPINI - Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah yang beriringan dengan Hari Raya Nyepi 1948 Saka / 2026 Masehi menghadirkan sebuah momentum sosial yang tidak hanya unik, tetapi juga sarat akan makna kebangsaan. Perjumpaan dua hari besar keagamaan ini menjadi cermin nyata bagaimana keberagaman di Indonesia tidak sekadar menjadi fakta, melainkan sebuah kekuatan yang perlu terus dirawat dengan kesadaran kolektif.
Dalam konteks masyarakat Nusantara, khususnya masyarakat Sasak, momentum ini dapat dimaknai sebagai ruang pembelajaran sosial yang sangat berharga. Idul Fitri, dengan semangat penyucian diri setelah bulan Ramadan, mengajarkan nilai keikhlasan, pengendalian diri, serta penguatan ukhuwah. Sementara itu, Nyepi menghadirkan dimensi spiritual yang mendalam melalui perenungan, keheningan, dan upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dua jalan yang berbeda ini pada hakikatnya bermuara pada nilai universal yang sama: kedamaian, introspeksi, dan keseimbangan hidup.
Fenomena ini sekaligus menjadi ujian kedewasaan sosial bagi masyarakat. Di tengah dinamika keberagaman, sikap saling menghormati bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. Prinsip “lakum dinukum wa liya din” yang diajarkan dalam Islam memberikan landasan etik yang kuat bahwa perbedaan keyakinan harus disikapi dengan penghormatan, bukan dengan penyeragaman.
Lebih jauh, kearifan lokal masyarakat Sasak seperti saling asah, saling asih, dan saling asuh (atau dalam istilah lokal: saling jaga dan saling asung) menjadi nilai yang relevan untuk memperkuat harmoni sosial. Nilai-nilai ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pedoman hidup yang mampu menjembatani perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.
Momentum beriringannya Idul Fitri dan Nyepi juga mengingatkan bahwa kerukunan tidak lahir secara otomatis, melainkan harus diupayakan secara sadar oleh seluruh elemen masyarakat. Generasi muda, khususnya, memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam menanamkan nilai toleransi, menjaga ketertiban, serta membangun ruang sosial yang inklusif dan damai.
Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi refleksi bahwa keberagaman adalah anugerah yang menuntut tanggung jawab. Ketika setiap individu mampu menahan diri, menghormati ruang ibadah orang lain, dan menjaga ketenangan bersama, maka di situlah letak kedewasaan sebuah bangsa diuji dan dibuktikan.
Jika momentum ini dapat dimaknai dengan bijak, maka bukan tidak mungkin ia akan menjadi tonggak penguat persaudaraan lintas iman dan budaya, sekaligus mempertegas bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun di atas fondasi toleransi, kebijaksanaan, dan kemanusiaan.
