![]() |
| Tim Inafis Polres Lombok Timur melakukan olah TKP di Lokasi Kebakaran Pasar Umum Pringgabaya (Dok.Selaparangnews.com) |
SELAPARANGNEWS.COM - Aroma tak sedap membayangi pembagian dana stimulus bagi korban kebakaran Pasar Pringgabaya. Di balik klaim Pemerintah Daerah dan Baznas yang menyatakan penyaluran telah tuntas bagi 211 orang, muncul suara sumbang dari pedagang yang mengaku menjadi korban sesungguhnya namun justru terabaikan.
Dugaan salah sasaran ini mencuat setelah sejumlah pedagang konveksi yang lapaknya ludes rata dengan tanah mengaku tidak mendapatkan bantuan sepeser pun. Sebaliknya, bantuan justru disebut mengalir ke blok yang tidak tersentuh api.
Sulhiyah, salah satu pengusaha konveksi yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup di Pasar Pringgabaya, mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam. Ia mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah, namun namanya raib dari daftar penerima bantuan.
"Bukan saya saja, banyak yang tidak dapat. Hampir semua pedagang di blok saya yang jelas-jelas terbakar malah tidak dapat bantuan," cetusnya dikonfirmasi lewat telepon. Rabu, (06/05/2026).
Ia menyoroti kejanggalan di mana pedagang di blok paling akhir, yang tidak terkena kobaran api, justru terdaftar sebagai penerima. Ironisnya, blok tersebut merupakan area penjual ayam dan daging yang setiap hari membawa pulang barang dagangannya.
"Kami pengusaha konveksi yang menyimpan semua barang di lapak sampai ludes tidak dapat bantuan. Sementara di blok ujung yang tidak kena api dan dagangannya dibawa pulang setiap hari malah dapat," imbuhnya.
Selain salah sasaran, Sulhiyah juga membongkar kebobrokan proses pendataan di lapangan. Ia menyebutkan bahwa pendataan tidak dilakukan secara profesional atau didata langsung oleh Kepala Pasar, melainkan menggunakan pola saling tunjuk antar-pedagang di blok tertentu.
Seandainya, kata Sulhiyah, pendataan dilakukan dengan cara meminta pemilik lapak berdiri di Lapaknya masing-masing setelah kejadian maka tentu akan jelas siapa yang mestinya diberikan bantuan. Tapi, hal itu tidak dilakukan.
"Pola pendataannya itu cuma ditunjuk-tunjuk saja oleh pedagang lain di satu blok," ungkapnya.
Ia mengaku dua kali membawa KTP beserta izin dagang yang dimilikinya agar masuk dalam pendataan, namun tetap saja tak ada ruang untuk mendapatkan bantuan tersebut. Ia sempat bertanya kepada kepala pasar terkait data tersebut, namun penjelasan yang didapat bahwa data penerima datang dari pemerintah daerah.
"Masak iya, mana mungkin Bupati tahu pedagang di pasar Pringgabaya ini," tegasnya.
Ketidakadilan ini, lanjutnya, memicu keresahan massal di kalangan pedagang yang merasa dizalimi. Sulhiyah menegaskan bahwa dirinya bersama rombongan pedagang lain yang senasib berencana akan melakukan aksi pengaduan langsung kepada Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin.
Mereka ingin meminta kejelasan terkait verifikasi data 211 orang yang diklaim Baznas sebagai Mustahik baru, padahal banyak korban riil di titik nol kebakaran justru terabaikan.
"Kami akan mengadu ke Bupati secara langsung. Kami ingin menyampaikan keluhan kami agar pemerintah tahu kondisi sebenarnya di lapangan, bukan cuma terima laporan di atas kertas saja," pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Media ini masih berupaya melakukan konfirmasi ke Kepala Pasar Pringgabaya. Sementara Kepala Dinas Perdagangan Lombok Timur, Hadi Fathurahman belum memberikan tanggapan meskipun sudah beberapa kali dihubungi lewat telepon dan pesan WhatsApp. (Yns)
