![]() |
| Sekretaris Daerah Lombok Timur Dr. HM. Juaini Taufik bersama mahasiswa Universitas Hamzanwadi menunjukkan hasil karya yang mereka pasarkan di CFD Taman Rinjani Selong |
SELAPARANGNEWS.COM – Langkah kreatif ditunjukkan sejumlah mahasiswa dari Pusat Inovasi dan Inkubasi Bisnis (PIIB) Universitas Hamzanwadi. Mereka memanfaatkan momentum Car Free Day (CFD) di Taman Rinjani Selong untuk memasarkan produk inovatif berupa gantungan kunci yang terbuat dari bahan dasar daur ulang sampah plastik.
Produk kreatif ini pun sukses memikat perhatian Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lombok Timur, Dr. HM. Juaini Taofik yang saat itu tengah mengikuti agenda CFD bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Lombok Timur pada Minggu (21/06/2026), Sekda menyempatkan diri mendatangi langsung lapak ekonomi kreatif (ekraf) mahasiswa tersebut.
Lapak ini memajang produk gantungan kunci unik yang diproduksi secara swadaya. Sampah tutup botol plastik yang biasanya menjadi limbah, dilelehkan menggunakan alat seadanya lalu dicetak menjadi berbagai bentuk karakter menarik yang memiliki nilai jual.
"Ya, alhamdulillah, dalam suasana care free di Kota selong, ini adalah salah satu wujud nyata atau hasil dari inkubasi bisnisnya dari Universitas Hamzanwadi yang memanfaatkan dari barang-barang bekas sampah plastik dengan ilmu, pengalaman dan semangat, bisa merubahnya menjadi barang yang bernilai," ujarnya.
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar ajang jualan biasa, melainkan implementasi nyata dari kurikulum akademik Universitas Hamzanwadi yang berorientasi pada praktik kewirausahaan. Melihat potensi besar dari produk berbasis green economy ini, Sekda memberikan masukan agar produk tersebut bisa terserap pasar dengan lebih optimal.
"Mahasiswa bisa memanfaatkan momen-momen tertentu, misalnya di peringatan Satu Muharram ini, mungkin bisa mencetak gantungan kunci tema 1 Muharram, lalu dipasarkan di acara Muharram Festival di Lapangan Porda," saran Sekda saat memberikan motivasi langsung kepada mahasiswa di lokasi.
Inovasi pengolahan limbah plastik menjadi produk bernilai ekonomis ini diharapkan dapat terus dikembangkan oleh mahasiswa Universitas Hamzanwadi, sekaligus menjadi pemantik bagi generasi muda lainnya di Lombok Timur untuk jeli melihat peluang bisnis dari isu lingkungan. .
Sekda mengatakan bahwa melalui Program "Lotim Berkembang" (Lombok Timur Berantas Rentenir Melalui Kredit Tanpa Bunga), Pemerintah terus komitmen untuk mendukung UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), termasuk ekonomi kreatif seperti ini.
Meski demikian, Ia mengakui masih ada pelaku UMKM pemula, termasuk dari kalangan mahasiswa, yang belum terfasilitasi. Ke depan, pihaknya tidak hanya hadir mempermudah akses permodalan, tetapi juga memangkas jalur birokrasi perizinan.
Dalam waktu dekat, lanjut Sekda, Pemkab Lombok Timur akan berkolaborasi dengan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) untuk memfasilitasi sertifikasi pelaku usaha berbadan hukum, seperti Perseroan Perorangan. Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak skala usaha lokal.
"Kita punya banyak potensi. Saat ini sebagian besar masih dikelola perorangan sehingga akses modalnya terbatas. Jika ke depan statusnya sudah berbentuk CV atau perseroan, akses permodalan tentu akan jauh lebih terbuka," ujarnya.
Ia melanjutkan, berkat pertumbuhan ekonomi daerah yang konsisten di atas 5 persen, Lombok Timur kini tengah membidik program strategis nasional dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang direncanakan bergulir pada Agustus mendatang.
Lombok Timur, kata dia, ditargetkan mampu terpilih menjadi salah satu model pertumbuhan ekonomi nasional, dengan mencetak sedikitnya 1.000 startup atau pelaku usaha baru. Para pelaku usaha ini nantinya akan dikoneksikan dengan Bank NTB Syariah, yang kini fokusnya mulai bergeser dari ASN ke sektor UMKM dan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
"Kita ingin mahasiswa saat ini tidak melulu berpikir menjadi ASN, tetapi langsung terjun menjadi pelaku usaha yang produktif. Kendala modal akan kita intervensi melalui kerja sama perbankan, di mana skemanya mirip Lotim Berkembang, bunga pinjaman akan ditanggung Pemerintah Daerah, sehingga pelaku usaha hanya membayar pokoknya saja," jelasnya.
Untuk merealisasikan target tersebut, Pemkab Lombok Timur juga akan memperkuat sinergi pentahelix dengan menggandeng pihak akademisi, salah satunya Universitas Hamzanwadi melalui program inkubasi bisnisnya.
Ia juga menyambut baik langkah taktis dosen dan mahasiswa yang langsung berkolaborasi dengan Dinas LHK dalam pemanfaatan fasilitas daerah. Langkah ini dinilai efektif untuk menekan ketergantungan pada produk impor dan memaksimalkan potensi lokal.
"Daripada kita membeli produk dari luar seperti Cina atau Taiwan, tentu jauh lebih baik kita mengoptimalkan dan bangga dengan produk lokal sendiri," tutup Sekda.
Salah satu Mahasiswa pemilik Produk bernama Adel menjelaskan bahwa keberadaan sampah yang begitu banyak di sekeliling adalah salah satu motivasi yang mendorong mereka untuk menciptakan satu inovasi produk yang memiliki nilai jual.
Dengan bermodalkan tutup botol plastik bekas dan alat sederhana seperti setrika, mereka membuat karya sen gantungan kunci berbentuk karakter-karakter lucu yang ternyata laku di pasaran.
Adel menjelaskan, mula-mula tutup botol bekas tersebut dilelehkan, kemudian dikeringkan dan diratakan dengan setrika lalu dimasukkan dalam cetakan kue hingga menjadi bentuk karakter tertentu. Selain itu, mereka juga menambahkannya dengan hiasan seperti lonceng dan simpul tali pengikat yang menarik.
"Alhamdulillah respon pasar lumayan meskipun masih coba-coba dengan alat seadanya," kata dia.
Pihaknya berharap dapat mengembangkan usaha tersebut menjadi lebih besar dan dengan jumlah produksi yang lebih banyak. "Iya semoga ada investor yang mau mendukung, karena kami butuh peralatan yang lebih memadai," pungkasnya. (Yns)
