Notification

×

Iklan

Iklan

Merasa Tuntutannya Diabaikan, Aliansi IAIH Gawat-Darurat Orasi di Depan Kampus

Saturday, July 4, 2020 | July 04, 2020 WIB Last Updated 2021-04-01T19:18:02Z


 
Foto: Puluhan Mahasiswa dari berbagai elemen organsiasi yang tergabung dalam Aliansi IAIH Gawat Darurat Gelar Aksi Damai dengan Berorasi di depan Kantor Rektorat Kampus
Lombok Timur, Selaparangnews.com - Lantaran merasa tuntunannya diabaikan, puluhan mahasiswa-mahasiswi Institute Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) NW Pancor yang tergabung dalam Aliansi IAIH Gawat Darurat menggelar aksi damai di depan kantor Rektorat Kampus.

Ketua Aliansi IAIH NW Pancor Gawat Darurat, Zulkifli mengatakan, Aksi yang dilakukan itu merupakan tindak lanjut dari audiensi yang sudah dilakukan dengan pihak kampus. Menurutnya, dua kali melakukan audiensi, kampus tetap tidak merespon tuntutan mereka untuk mengurangi biaya semester di masa Pandemi.

Lanjut Zulkifli, dia bersama semua elemen mahasiswa yang tergabung dalam aliansi itu telah melakukan dua kali audiensi dengan Wakil Rektor 1, 2 dan 3. Tapi hanya Warek 3 yang menanggapinya.

"Warek 3 menjanjikan bahwa tuntutan kami itu akan dibahas dulu dengan pemangku kebijakan yang lain, di mana hari ini adalah batasnya. Dalam rangka mengawal janji dan mengetahui hasil rapat itulah kami berorasi hari ini" ungkapnya. Sabtu (04/07/2020).

Mengenai tuntutannya itu, Zulkifli menuturkan, persoalan utama yang menjadi atensinya ialah Surat Edaran (SE) kampus tentang keringanan SPP bagi Mahasiswa sebanyak Rp. 200. 000 dan juga peniadaan denda selama masa Pandemi Covid-19 hingga 30 Juli.

"Biaya SPP Mahasiswa itu kan dipotong Rp. 300. 000 di mana, Rp. 200. 000 untuk Mahasiswa dan Rp. 100. 000 bagi dosen," jelasnya.

Namun, Zukifli selaku ketua Aliansi menolak adanya pemberian bagi dosen itu. Pasalnya, selama masa Pandemi Covid-19 dosen tidak pernah mengisi kuliah online.

Wakil Rektor 3, H. Ahyan  ketika dimintai keterangan mengenai aksi itu mengatakan, sebenarnya apa yang diminta oleh mahasiswa itu sudah ditanggapi oleh kampus untuk mengurangi biaya semester genap sebanyak Rp. 200. 000.

Akan tetapi, lanjutnya, mahasiswa tersebut kembali menuntut supaya dikurangi lagi sebanyak Rp. 100. 000. "Dalam rangka itulah mereka melakukan orasi hari ini" jelasnya.

Dia menceritakan bahwa pada awalnya kampus memutuskan untuk memotong biaya SPP itu sebanyak Rp. 100. 000, tapi setelah dirundingkan pada saat rapat, maka nominalnya ditambah menjadi Rp. 200. 000.

Dirinya juga heran dengan tuntutan susulan mahasiswa itu, apalagi dengan dalih bahwa dosen tidak pernah mengajar. "Harusnya mereka memperjuangkan gaji dosen, bukan malah meminta jatah dosen dicabut" tuturnya.

Dan terhadap tuntutannya mahasiswa yang terakhir itu, dia mengaku belum berani memberikan keputusan, karena itu harus melalui keputusan Rektor. "Insyaallah hari Senin kita akan rapat dengan Rektor, nanti tergantung apa keputusan Rektor maka itulah yang akan kita lakukan" tutupnya.

Ahyan juga membantah dirinya telah mengabulkan tuntutan mahasiswa itu ketika melakukan audiensi beberapa hari lalu. Yang dilakukan pada waktu itu ialah menandatangani penerimaan surat tuntutan dari mahasiswa, bukan mengabulkan tuntutan mahasiswa itu.

"Kan ada keterangannya saya tulis di sana. Lagipula untuk memutuskan itu kan harus melalui rapat pimpinan" tutupnya. (SN-05)

×
Berita Terbaru Update