Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Fahri Hamzah: TNI Harus Keluar Dari Politik

Minggu, 29 November 2020 | November 29, 2020 WIB Last Updated 2021-04-01T14:53:49Z
Foto: Fahri Hamzah


Lombok Timur, Selaparangnews.com - Fahri Hamzah menyebut bahwa Tentara Negara Indonesia (TNI) sejatinya tidak boleh mengikuti arus politik yang ada saat sekarang ini, hal tersebut ia katakan terkait dengan TNI yang ikut menurunkan baliho Habib Riziq Shibab (HRS).

"TNI harus keluar dari gelanggang politik dan harus menghormati hukum," ucapnya ketika di temui SN selesai acara orasi kebangsaan Partai Gelora di gedung wanita, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Minggu, 29/11/2020.

Dalam pandangan wakil ketua DPN Partai Gelora ini, pejabat TNI saat ini banyak yang kurang memahami orientasi Negara dalam arus militer, ketika dihadapkan dengan kebijakan militer itu sendiri.

Oleh sebab itulah, ia menyarankan agar pejabat elit TNI saat ini kembali belajar dan membaca situasi pasca reformasi 20 tahun yang lalu. Sebab, TNI merupakan salah satu simbol Negara yang seharusnya menjaga perdamaian di tengah masyarakat.

"Bahkan ketika peperangan saja, kita mencari perdamaian kok," ketusnya.

Jangan seperti keadaan sekarang, kata Fahri sekan-akan TNI ikut berperan dalam membentuk konflik dengan sipil. Bahkan ia menyebut bahwa haram hukumnya jikalau TNI ikut membentuk konflik dengan sipil.

Dengan adanya kejadian penuruan baliho HRS oleh TNI tersebut, menurut mantan politikus PKS ini, pemerintah saat ini bukan tidak bisa memegang kendali. Namun, melihat keadaan seperti saat ini seharusnya pemerintah fokus untuk menangani krisis akibat pandemi Covid-19 yang sampai dengan saat ini masih mewabah.

"Kami juga bisa ikut berperan dalam pertengkaran itu, tapi ngapain seperti itu. Saat ini yang kita butuhkan persatuan untuk melawan krisis itu," tegasnya.

Sebab lanjutnya, kalau pemerintah bisa keluar dari krisis ini, maka itu akan menjadi pengakuan bagi Negara lainnya bahwa Indonesia merupakan Negara yang besar.

"Tapi kalau krisis ini dihadapi dengan bertengkar, maka kita juga akan mati bareng," ujarnya.

Jaga jarak fisik menurutnya saat ini boleh saja terjadi, akan tetapi tidak boleh menjaga jarak fikiran dan perasaan. Sehingga menciptakan kondisi Indoensia yang besar dan kuat ke depannya, tentu dengan pemimpin yang kuat pula. (fgr)

×
Berita Terbaru Update