Notification

×

Iklan

Iklan

Puluhan OPD dan OMS Lotim Ikuti Pelatihan Pembangunan Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim

Thursday, July 21, 2022 | July 21, 2022 WIB Last Updated 2022-07-21T07:59:23Z

Pelatihan advokasi yang efektif untuk pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim dalam perencanaan dan pelaksanaan di Lombok Timur 

Lombok Timur, Selaparangnews.com - Puluhan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kabupaten Lombok Timur bersama Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) ikuti pelatihan advokasi yang efektif untuk pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim dalam perencanaan dan pelaksanaan di Lombok Timur. 


Kegiatan yang berlangsung Kamis, (21/07/2022) di Aula Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Lombok Timur tersebut dihadiri sejumlah narasumber, di antaranya adalah Ridwan dari BAPPEDA Kabupaten Lombok Timur, Lalu Adi Gunawan dari BAPPEDA Provinsi NTB, Rahmat Sabani dari Kelompok Kerja (Pokja) Adaptasi Perubahan Iklim (API) NTB, Sulistyono dari Kelompok Studi Lingkungan dan Pariwisata (KOSLATA), Muhammad Jawad dari Yayasan Relief Islami Indonesia (YRII) dan Eko Krismantono dari Konsorsium Untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI).


Manajer Project DECCAP (Deepening Climate Change Adaptation for Prosperity) dari KONSEPSI Eko Krismantono menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari program yang tengah dikerjakan oleh KONSEPSI bersama YRRI di Kabupaten Lombok Timur. Sebelumnya, kata dia, sudah ada pertemuan serupa yang dilakukan bersama OPD dan OMS terkait Pembangunan Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim di Lombok Timur.


"Kemarin itu khusus untuk OMS, hari ini bersama Pokja Lintas Sektor OPD dan OMS Lombok Timur," ujarnya.


Ia melanjutkan, tujuan dari kegiatan tersebut ialah untuk meningkatkan kapasitas dan memaksimalkan serta meningkatkan efektifitas sektor pemerintah dalam melakukan advokasi terhadap pembangunan rendah karbon dan ketahanan Iklim di Kabupaten Lombok Timur. 


"Terutama di dalam perencanaan dan pelaksanaannya di Kabupaten Lombok," imbuhnya.


Ia berharap, dengan adanya pelatihan itu dapat menguatkan kapasitas Forum Mitigasi atau Pokja API di sektor pemerintah dalam mengadvokasi pembangunan rendah karbon dan Ketahanan iklim di Kabupaten Lombok Timur  


"Kita juga berharap adanya pemahaman Pokja terkait dengan ketahanan Iklim dan rendah serta pemahaman terkait cara advokasi dalam penganggaran dan perencanaan daerah," pungkasnya.


Dari Kiri: Sulistyono (Direktur KOSLATA),  Rahmat Sabani (Pokja API NTB), Ridwan (Kabid PSDA BAPPEDA Lombok Timur) 

Sementara itu Sulistyono selaku narasumber dalam pemaparannya menjelaskan bahwa pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim merupakan platform nasional untuk mencapai target SDGs yang menempatkan goal ke 13 yaitu perubahan iklim sebagai sentral didukung oleh goal lain yang tersebar di  3 dari 4 pilar SDGs yaitu pilar sosial, ekonomi dan lingkungan. 


Untuk pembangunan rendah karbon, lanjutnya, strategi utamanya ialah penanganan limbah dan ekonomi sirkular, pengembangan industri hijau, pembangunan energi berkelanjutan, rendah karbon laut dan pesisir dan pemulihan lahan berkelanjutan. 


"Terkait rendah karbon laut dan pesisir itu bisa disiasati dengan melakukan inventarisasi dan rehabilitasi ekosistem laut dan pesisir," jelasnya. 


Sementara untuk ketahanan iklim, sambungnya, yang menjadi strategi utamanya ialah melihat wilayah prioritas aksi dari ketahanan iklim tersebut seperti sektor pertanian, sektor air, sektor kesehatan dan sektor kelautan beserta wilayah pesisirnya. 


Ia membeberkan teknik komunikasi dalam mengadvokasi terkait isu tersebut. Menurutnya hal itu perlu dilakukan dengan pola komunikasi yang sederhana namun harus dipikirkan secara serius, isinya harus positif dan konstruksi serta proaktif dan kreatif. 


Foto bersama peserta dan narasumber usai kegiatan

Narasumber lainnya, Lalu Adi Gunawan dari BAPPEDA Provinsi NTB memaparkan terkait perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim di Provinsi NTB. Berdasarkan data yang dirilis BPBD, lanjutnya, menunjukkan adanya trend kenaikan suhu di Provinsi NTB sehingga dikhawatirkan akan mengalami kekeringan. 

"Bahkan, diproyeksikan musim kemarau yang akan datang akan terasa lebih panas dan kering," jelasnya. 

Ia mencontohkan perubahan iklim di NTB dengan beberapa bencana yang di alami, seperti banjir bandang yang terjadi di Lombok, Sumbawa dan Bima yang menelan kerugian hingga puluhan miliar rupiah. Karena itu menurutnya, hal itu perlu adanya upaya untuk mengantisipasi hal tersebut agar tidak terulang di kemudian hari.

Upaya untuk mengatasi hal itu, menurutnya, sudah tertuang secara jelas dalam visi-misi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, yaitu NTB Gemilang (Gerakan mencintai Lingkungan, Kesehatan dan Pendidikan Cemerlang). Ia kemudian menjelaskan secara detail bagaimana visi-misi itu berjalan sejak tahun 2019 lalu hingga tahun 2023 nanti. (Yns) 


×
Berita Terbaru Update