Penulis: Suparlan, S.H., M.H | Wakil Ketua Lakpesdam PWNU
Tuan Guru Agip Cempake orang biasa memanggilnya. Lahir pada 1953 dari keluarga ulama, TGH Lalu Ibrohim dibesarkan dalam tradisi keilmuan dan dakwah yang kuat. Sejak kecil, ia akrab dengan suasana religius yang menanamkan kecintaan pada ilmu dan akhlak.
Pendidikan formalnya ditempuh hingga jenjang SMP. Setelah itu, ia memilih jalan sunyi, menekuni ilmu agama secara mendalam melalui pesantren dan para guru serta ulama di Lombok, sembari tetap mempelajari ilmu-ilmu umum secara mandiri.
Pilihan hidup itu bukan jalan pintas, melainkan jalan panjang yang penuh ketekunan. Masa remajanya diisi dengan menghafal, memahami, dan mengajarkan ilmu, baik agama maupun umum.
Matematika dan bahasa Inggris dipelajarinya seiring fiqh, nahwu, dan tafsir. Dua dunia pendidikan yang kerap dipertentangkan justru ia satukan dalam satu napas pengabdian.
Dari ruang-ruang belajar sederhana, kiprahnya sebagai guru pendidikan agama (PGA) dimulai di Sengkol, Batukliang, Lombok Tengah.
Kesungguhan dan kedisiplinannya dalam mendidik menjadi fondasi lahirnya Pesantren Uswatun Hasanah. Pesantren ini bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat pembentukan karakter dan peradaban kecil yang menyiapkan kader ulama, pendidik, dan pemimpin masyarakat.
Di pesantren inilah gagasan besar itu diwujudkan, pendidikan terpadu antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. TGH Lalu Ibrohim percaya bahwa iman harus berjalan seiring dengan nalar, dan akhlak mesti menjadi wajah dari ilmu. Ia aktif berdakwah di berbagai tempat dipulau Lombok dan di berbagai forum Nahdlatul Ulama, membina IPNU, IPPNU, Muslimat NU, hingga terlibat dalam agenda keagamaan tingkat wilayah dan nasional yang menghadirkan tokoh-tokoh besar NU.
Relasinya dengan para ulama Lombok seperti ; Tuan Guru Turmuzi Badaruddin, TGH Takiudin Mansyur, dan TGH Ma’arif Makmun, membentuk jejaring dakwah yang kokoh. Dari pesantren Uswatun Hasanah, lahir pula banyak madrasah dan pesantren baru yang didirikan oleh para alumninya, tersebar di Lombok, Dompu, hingga Sulawesi. Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah mengalir melalui tangan-tangan santri yang pernah dididiknya.
Dari Satu Pesantren, Lahir Banyak Cahaya
Di Lombok Tengah, nama Tuan Guru Lalu Ibrahim Muhammad Thayyib tidak hanya dikenang sebagai pendidik dan ulama. Ia hidup dalam jejak para muridnya. Dari bilik-bilik pesantren yang sederhana, lahir para santri yang kini menghidupkan pendidikan, dakwah, dan kepemimpinan umat di berbagai penjuru daerah.
Mereka datang dengan latar belakang berbeda, pulang membawa satu bekal yang sama: ilmu yang berpadu dengan akhlak. Bagi Tuan Guru Lalu Ibrahim, mendidik bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan menanamkan tanggung jawab untuk mengabdi. Dan benih itu kini tumbuh subur.
Di Ranjok, Batukliang Utara, Ustadz Lalu Abdul Hanan meneruskan api pendidikan melalui Pondok Pesantren Daarul Athfal. Di Mertak Kesambik, Batukliang, Ustadz Abdul Hannan, S.Pd.I memimpin Pondok Pesantren Qudwatun Hasanah, membina santri dengan semangat keteladanan yang ia warisi dari gurunya. Sementara di Sangkewati, Batukliang, Ustadz Anwir mengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi, menjadi tempat awal para pencari ilmu menapaki jalan pesantren.
Jejak serupa tampak di Klanjuh, Batukliang. Ustadz Lalu Syarif Imamuzzahidin, MA, mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren Syarif Imamuzzahidin. Pesantren ini menjadi ruang pembelajaran yang menggabungkan keilmuan klasik dan wawasan modern, sebuah ciri kuat warisan Tuan Guru Lalu Ibrahim.
Di Desa Jago, Praya, kiprah itu berlanjut melalui TGH Khamsun, SH., M.Pd, pimpinan Pondok Pesantren Ulil Absor Panti. Ia dikenal sebagai pendidik yang tegas namun bersahaja, membentuk santri yang siap terjun ke masyarakat. Di Bujak, Batukliang, Ustadz Sabarman, M.Pd menggerakkan Yayasan Ibnu Sulaiman, sementara Haji Sadariah Sidik, S.Ag memimpin Yayasan Al-Fuady, menguatkan pendidikan Islam berbasis komunitas.
Nama-nama lain juga mengisi mosaik pengabdian itu. Jalaludin, S.Pd mengembangkan Yayasan Abdul Hakim Al-Makrif di Desa Barabali, Batukliang. Ustadz Abdul Khalil, M.Pd.I membina generasi muda melalui Yayasan Pondok Pesantren Al-Kholily Sombek di Desa Selebung. Semua bergerak dengan cara masing-masing, tetapi dengan ruh yang sama: melanjutkan amanah guru.
Di antara para santri itu, satu nama menonjol di panggung yang lebih luas. Prof. Dr. TGH Masnun Tahir, M.Ag, pimpinan Yayasan Shautul Mushannif Tenten Lauq Batukliang, kini dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU NTB dan Rektor Universitas Islam Negeri Mataram. Dari pesantren ke kampus, dari desa ke ruang kepemimpinan, ia membawa nilai-nilai yang sama yaitu keilmuan, keikhlasan, dan pengabdian.
Rantai pengabdian ini menunjukkan satu hal penting, keberhasilan seorang guru tidak diukur dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan sejauh mana murid-muridnya melangkah.
Tuan Guru Agip telah melahirkan bukan hanya lulusan, tetapi pelanjut perjuangan. Hari ini, pesantren-pesantren yang diasuh para santrinya berdiri sebagai saksi. Di sana, anak-anak desa belajar membaca kitab, memahami dunia, dan menata masa depan. Di sana pula, nilai-nilai yang dahulu diajarkan dengan kesederhanaan kini menjelma menjadi gerakan pendidikan yang hidup.
Dari satu guru, lahir banyak cahaya. Dari satu pesantren, tumbuh banyak jalan pengabdian. Dan dari sanad keilmuan itu, kita bisa terus belajar tentang arti pendidikan yang sesungguhnya, ilmu yang diamalkan, dan kepemimpinan yang berakar pada akhlak.
Sang Produsen Ilmu Pengetahuan
Di balik perannya sebagai pendidik, TGH Lalu Ibrohim juga dikenal sebagai penulis yang tekun. Tak kurang dari 64 karya beliau hasilkan, mencakup Al Qur’an, hadist, fiqh, tasawuf, tafsir, tajwid, nahu shorf, sejarah, filsafat, cerita para nabi, puisi, hingga ilmu falak, anatomi, dan astronomi. Karya-karya itu menjadi rujukan pembelajaran di pesantren, memperkaya khasanah keilmuan yang jarang disentuh oleh tokoh pesantren pada masanya.
Berikut daftar karya yang telah ditulis oleh Tuan Guru lalu Ibrahim Muhammad Thoyyib:
“Ahaditshul Ahkam, Adab Berguru, Air Mata Bunda, Al Qur’an Sebagai Mu’jizat, Angan-angan Tak Sampai, Antropologi Methafisika, Aqidah Islam, Ayah, Azwajum Muthaharoh fi Bayanim Muthaharah, Balagah, Banjir Darah dan Air Mata, Bibel Dalam Pandangan Islam, Dasar-Dasar Ilmu Nahwu dan Shorf, Dasar-Dasar Renungan Filsafat, Digiring ke Meja Hijau, Ekonomi dan Keuangan Islam, Fiqhul Ibadah, Nenetika dalam Pandangan Islam, Harapan Bunda (Remajaku di Dunia Ilmu), Hijrahnya Baginda Rasul, Hikmah Pernikahan Baginda Rasul, Harun Maqsurun fil Khiyam fi Bayani Ramadhan, Ilmu Badi’, Ilmu Bayan, Ilmu Falaq (Praktical Astronomi), Ilmu Falaq (Sepherical Astronomi), Ilmu Faraid, Ilmu Ma’ani, Ilmu Manthiq (Logika), Ilmu Tajwid Al Qur;an, Isro dan Mi;rojnya Baginda Rasul, Jejak Da’wah Para Wali, Khairul Bariah fi Qowaidil Lughadil Arabiyah, Kilas Balik Sejarah Pondok Pesantren, Kisah Nabi Ibrahim AS, Kisah Nabi Musa AS, Kisah Nabi Yusuf AS, Komentar Al Qur’an tentang Dajjal, Lagu-lagu Uswatun Hasanah, Lagu Remaja, lahirnya Baginda Rasul, Manqibul Auliya’, Membentengi Aqidah dari Aliran Sesat, Mustalahul Hadist, Para Aulia dan Pejuang Islam di Lombok, Perbandingan Tata Bahasa, Puisi Uswatun Hasanah, Qiramin Bararah (Zakat, Haji dan Umrah), Qoshiratut Tarfi, Quthufuhaddaniyah, Renungan Islam tentang Antariksa, Renungan Islam tentang Embriologi/Anatomi, Riwayat Ka’bah, Riwayat Nuzulul Qur’an, Sejarah Kota Madinah, Shadaqallahu Warasuluh, Tafsir Al Fatihah, Tariqat Qadiriyah Naqsabandiyah, Tata Bahasa Arab (jilid 1-10), Terjemah Maulid Barzanji, Ushul Fiqh, Uswatun Hasan 1-15, Wafatnya Baginda Rasul, Wajah Lombok Zaman dulu.”
Namun, warisan terbesarnya bukan hanya bangunan pesantren atau deretan buku. Ia menanamkan nilai kejujuran, kesederhanaan, kesabaran, dan keikhlasan sebagai napas pendidikan. Keteladanan hidupnya membentuk santri-santri yang kemudian berkiprah di berbagai bidang, menjadi pengusaha, guru, dosen, ulama, hingga pemimpin kampus dan organisasi keagamaan, seperti Prof. Dr. TGH Masnun Tahir, MA, Ketua PWNU NTB.
Kepemimpinannya dikenal lembut, penuh hikmah, dan menyatukan. Ia mengajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah, sementara akhlak tanpa ilmu akan kehilangan daya. Prinsip inilah yang membuatnya dicintai lintas kalangan dan dihormati hingga akhir hayatnya.
Kisah TGH Lalu Ibrohim adalah pengingat penting di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan dari ijazah dan jabatan. Ia menunjukkan bahwa ketekunan, keikhlasan, dan keberanian untuk belajar sepanjang hayat mampu melahirkan perubahan nyata. Tak sekolah tinggi, tetapi mampu mendirikan sekolah. Tak mengejar nama, tetapi meninggalkan warisan yang panjang.
Dari Lombok, ia mengajarkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal gelar, melainkan tentang membentuk manusia berilmu dan berakhlak. Sebuah teladan yang tetap relevan, hari ini dan di masa depan.


