Notification

×

Iklan

Iklan

Sinergikan Teori dan Praktik Melalui Project Based Learning, Mahasiswa Pariwisata Universitas Hamzanwadi Siap Gelar Eksibisi Akbar Kebudayaan Sasak

Senin, 29 Juni 2026 | Juni 29, 2026 WIB Last Updated 2026-06-29T16:04:02Z

Poster pagelaran budaya dan eksibisi pariwisata bertajuk pameran MICE Program Studi Pariwisata Universitas Hamzanwadi

SELAPARANGNEWS.COM - Dalam rangka mencetak laboratorium kerja yang dinamis sekaligus melahirkan sumber daya manusia (SDM) sektor kepariwisataan yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing tinggi, Program Studi (Prodi) Pariwisata Universitas Hamzanwadi kembali melakukan terobosan dalam metode pembelajaran. Sebagai implementasi nyata dari kurikulum berbasis kompetensi, mahasiswa Prodi Pariwisata akan menyelenggarakan sebuah pagelaran budaya dan eksibisi pariwisata bertajuk pameran MICE. Acara akbar ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 4 Juli 2026, bertempat di Gedung Juang Lombok Timur, mulai pukul 07.00 WITA hingga selesai.


Agenda prestisius ini merupakan puncak dari proyek akhir (final project) mata kuliah Manajemen MICE (Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition). Sebuah mata kuliah instrumen yang menuntut pemahaman manajerial tingkat tinggi dalam industri event.


Dosen pengampu mata kuliah Manajemen MICE, Amrullah, M.Sc.—atau yang akrab disapa Pak Am oleh para mahasiswanya—menjelaskan bahwa konseptualisasi acara ini didasarkan pada metode Project Based Learning (PBL). Sebuah pendekatan pedagogis yang memosisikan mahasiswa sebagai aktor utama dalam memecahkan masalah melalui proyek nyata.


"Mata kuliah ini secara fundamental menekankan pada penguatan Project Based Learning. Kami di ranah akademik tidak ingin mahasiswa hanya sekadar mengonsumsi teori di dalam ruang kelas. Melalui skema PBL ini, mahasiswa dituntut untuk memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kapasitas diri mereka sendiri. Ini adalah ruang bagi mereka untuk memperoleh experiential learning atau pengalaman empiris secara langsung di lapangan," urai Pak Am saat memberikan keterangan terkait kesiapan acara.


Lebih lanjut, Pak Am menegaskan bahwa urgensi dari mata kuliah Manajemen MICE terletak pada penguasaan siklus hidup sebuah acara secara komprehensif. Proses ini melatih sensitivitas mahasiswa dalam memosisikan diri sebagai Professional Exhibition Organizer (PEO).


"Karena ini bertajuk manajemen MICE, maka fokus penilaian kami adalah end-to-end process. Mahasiswa difasilitasi untuk merasakan secara langsung bagaimana rumitnya sebuah ekosistem event, mulai dari fase inisiasi dan perencanaan, pencarian ide-ide kreatif, penyusunan anggaran, koordinasi stakeholder, eksekusi di lapangan, hingga nantinya pada tahap evaluasi pasca-acara. Mereka belajar bagaimana mengeksekusi ide abstrak menjadi sebuah realitas visual yang bernilai jual," tambah Pak Am.


Mengenai substansi dari tema yang diangkat, Pak Am mengungkapkan adanya misi idealis di balik pemilihan konsep kebudayaan daerah. Pihaknya ingin mengawinkan nilai-nilai akademis dengan upaya pelestarian warisan leluhur.


"Kami memilih tema kelokalan ini karena didorong oleh tanggung jawab moral untuk memberikan edukasi kepada generasi muda dan masyarakat luas. Kami mencoba mengangkat dan merevitalisasi esensi eksistensi budaya Sasak yang kemudian diintegrasikan secara strategis dengan sektor pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism)," tegas Pak Am.


Melalui perhelatan akbar ini, seluruh sivitas akademika Prodi Pariwisata Universitas Hamzanwadi berharap agar sinergi antara dunia pendidikan tinggi, pelestarian kebudayaan, dan pengembangan sektor pariwisata daerah dapat terjalin secara harmonis dan berkelanjutan.


"Harapan besar kami, project MICE yang diinisiasi oleh mahasiswa ini dapat menstimulasi kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga budaya. Semoga acara ini berjalan dengan lancar, mencapai kesuksesan yang holistik, dan mampu memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang positif, baik bagi portofolio akademik mahasiswa maupun bagi eksistensi pariwisata berbasis budaya di Lombok Timur," pungkas Pak Am optimistis.


Gagasan progresif ini mendapat dukungan penuh dari pihak korprodi. Koordinator Program Studi (Korprodi) Pariwisata Universitas Hamzanwadi, Muhammad Ramli, menggarisbawahi pentingnya rekonstruksi model pembelajaran di perguruan tinggi yang menyeimbangkan ranah kognitif dan psikomotorik mahasiswa.


"Dalam industri pariwisata yang sangat dinamis, kita tidak bisa lagi terpaku dan terlalu menekankan pada aspek teoritis belaka. Penguatan aspek praktik kepariwisataan secara langsung harus kami tekankan secara masif. Hal ini krusial untuk mengasah hard skills maupun soft skills mahasiswa, sekaligus sebagai instrumen untuk memvalidasi dan mengimplementasikan ilmu-ilmu teoritis yang telah mereka pelajari di bangku perkuliahan," papar Muhammad Ramli.


Eksibisi MICE ini diproyeksikan akan menyedot perhatian publik karena dikemas secara interaktif, edukatif, dan menghibur. Panitia pelaksana telah merancang diversifikasi agenda yang menonjolkan kekayaan kearifan lokal (local wisdom) Pulau Lombok, di antaranya:


Pertunjukan Seni Budaya Tradisional : Menampilkan magnet kultural seperti ritme perkusi Gendang Beleq, estetika gerakan Tari Gandrung, hingga uji ketangkasan dan nilai maskulinitas dalam Atraksi Peresean.

Pemberdayaan Ekonomi Kreatif : Menghadirkan Bazar UMKM Lokal yang memamerkan produk-produk kerajinan dan kuliner khas, serta Pameran Budaya dan Kearifan Lokal sebagai representasi identitas sosiologis masyarakat Sasak.

Edukasi dan Komunikasi Interaktif : Menyediakan Tour Booth Budaya Lombok yang menyajikan informasi mendalam mengenai destinasi sejarah, serta ruang dialektika melalui Dialog Interaktif Budaya bersama para pemerhati adat.

Aktivasi Pengunjung: Sesi Foto Bersama, berbagai pertunjukan seni kontemporer, hingga aktivitas gamification berupa Kuis Interaktif seputar khazanah budaya dan pariwisata yang menyediakan berbagai doorprize serta hadiah menarik bagi pengunjung yang beruntung. (SN) 

×
Berita Terbaru Update